Jumat, 17 Mei 2013

Cinta & Semangkuk Sekuteng


Jika semua insan di tanya apakah cinta semanis sekuteng?? Tentu jawabnnya berbeda-beda tapi kemungkinan akan sepakat di titik cinta itu manis, iya tak ada yang bisa menolak salah satu dari jutaan rasa cinta itu adalah manis, lebih manis dari sekuteng atau gula termanis sekalipun. Berbicara soal sekuteng, sore kemarin seusai shalat magrib di pelataran masjib banyak jamaah yang berkerumun di dekat gapura masjid, ternyata disana ada penjual siomay, donat dan sekuteng. Dan setelah melihat banyak sekali yang beli sekuteng akhirnya ku pesan juga satu porsi sambil menunggu gerimis mereda.

Sekuteng di pelataran masjid itu berisikan kacang, ceruluk, potongan roti, bulet-bulet kecil (ga tau namanya) dan tentu saja kuah jahe hangat campur susu. Rasanya tentu untuk unik, ada rasa hangatnya (sehangat persahabatan dan cinta kita), ada rasa manisnya (semanis senyumanmu) dan  menyegarkan (seperti cinta kita yang selalu segar). Kenapa ya setiap sendok sekuteng mengingatkanku padamu cintaku, apa karena sekuteng ini? Apa karena pelataran mesjid ini? Apa kerena abang yang jual sekuteng? (yang terakhir tentu tidak), yang pasti karena kau tak pernah pergi dari hati ini, walaupun kau sekarang jauh pergi, tapi di pelupuk mata ini kau selalu hadir.

Cintaku lebih manis dari sekuteng karena kau yang mencelupkan rasa manis itu, cintaku lebih hangat dari sekuteng karena kau yang menghidupkan lentera yang tak pernah padam di hati ini. Ku ucapkan terima kasih banyak, terima kasih karena selalu membuat hati ini bahagia, sungguh bahagia bisa jatuh cinta padamu. Sungguh berjuta rasanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar