Jika
semua insan di tanya apakah cinta semanis sekuteng?? Tentu jawabnnya
berbeda-beda tapi kemungkinan akan sepakat di titik cinta itu manis, iya tak
ada yang bisa menolak salah satu dari jutaan rasa cinta itu adalah manis,
lebih manis dari sekuteng atau gula termanis sekalipun. Berbicara soal sekuteng, sore kemarin seusai shalat magrib di pelataran masjib banyak jamaah yang berkerumun di dekat
gapura masjid, ternyata disana ada penjual siomay, donat dan sekuteng. Dan setelah
melihat banyak sekali yang beli sekuteng akhirnya ku pesan juga satu porsi sambil menunggu gerimis mereda.
Sekuteng
di pelataran masjid itu berisikan kacang, ceruluk, potongan roti, bulet-bulet
kecil (ga tau namanya) dan tentu saja kuah jahe hangat campur susu. Rasanya tentu
untuk unik, ada rasa hangatnya (sehangat persahabatan dan cinta kita), ada rasa
manisnya (semanis senyumanmu) dan menyegarkan
(seperti cinta kita yang selalu segar). Kenapa ya setiap sendok sekuteng
mengingatkanku padamu cintaku, apa karena sekuteng ini? Apa karena pelataran
mesjid ini? Apa kerena abang yang jual sekuteng? (yang terakhir tentu tidak),
yang pasti karena kau tak pernah pergi dari hati ini, walaupun kau sekarang
jauh pergi, tapi di pelupuk mata ini kau selalu hadir.
Cintaku
lebih manis dari sekuteng karena kau yang mencelupkan rasa manis itu, cintaku
lebih hangat dari sekuteng karena kau yang menghidupkan lentera yang tak pernah
padam di hati ini. Ku ucapkan terima kasih banyak, terima kasih karena selalu
membuat hati ini bahagia, sungguh bahagia bisa jatuh cinta padamu. Sungguh
berjuta rasanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar