Sabtu, 19 Oktober 2013

*Rahasia rakus


Monyet itu makan buah2an di hutan. Apa saja dia makan. Favorit makanan monyet--menurut pemahaman semua orang--adalah pisang. Wah, sepertinya pisang ini lezat sekali bagi monyet. Maka pertanyaannya adalah, bagaimana caranya monyet ini bisa makan buah-buahan? Jangankan disuruh berkebun, menanam pisang. Disuruh yang lebih mudah saja, makan tanpa belepotan misalnya, susah. Bagaimana mungkin Tuhan menciptakan monyet, yang tidak punya kemampuan berkebun, bagaimana cara agar monyet ini bisa bertahan hidup di dalam hutan sana?

Cicak itu merayap di dinding. Makanannya adalah nyamuk, hewan yang bisa terbang. Satu hanya merayap, satu lagi bisa terbang kemana2. Aduh, lagi-lagi, bagaimana mungkin Tuhan menciptakan cicak yang merayap dengan makanan nyamuk yang terbang? Nggak setara sama sekali. Bagaimana itu nyamuk akan menangkap nyamuk? Tidak masuk dalam pikiran.

Belum lagi kura-kura. Sudah lambat, merangkak pula, susah kemana2? Bagaimana mungkin si kura-kura ini bisa menafkahi keluarganya? Jangan2 istri si kura-kura akan terus teriak ke suaminya, "Kamu ini, sudah lelet, cuma tidur2an, lihat, anak2 kita minta makan. Ayo kerja sana."

Apalagi cacing, kerjaannya cuma merambat di dalam tanah. Bagaimana dia cari makan? Bahkan entahlah kenapa cacing itu bisa besar2. Makan humus? Makan tanah? Kecuali yang masuk ke dalam tubuh manusia/hewan, wajar bisa beusar-beusar, karena inangnya berlimpah makanan. Pun binatang2 lain, yang melata di muka bumi, yang berlari di atas bumi, yang berenang, yang terbang. Terkadang logika mencari makan mereka susah dipahami.

Tapi ternyata mereka hidup semua. Cicak misalnya, tidak ada yang memposting di jejaring sosial: "aduh, nasib malang, seharian saya merayap mengejar nyamuk, nggak berhasil-berhasil." atau posting yang lebih serius: "ya Allah, kenapa aku nggak dikasih sayap sih? dan si nyamuk itu merangkak?" Nyatanya tidak. Si cicak sukses menangkap banyak nyamuk. Apa resepnya? Bersabar mengintai. Bersabar mencari posisi paling strategis. Lantas saat si nyamuk mendekat, hap! lalu ditangkap. Bersabar dalam usaha yang sungguh membutuhkan rasa sabar.

Juga monyet, mereka beramai2 terus mengelilingi hutan, mencari makanan. Naik, turun, kiri, kanan, depan, belakang. Terus menyisir setiap jengkal hutan mencari nafkah. Mereka memang tidak bisa bercocok tanam, tapi mereka bisa mencari rezeki yang dijanjikan Allah bagi keluarga monyet2 ini. Dan kura-kura pun tidak cemas. Meski mereka lambat, mereka tetap mencari rezeki tersebut. Boleh jadi, istri si kura-kura selalu menyemangati suaminya, "Kamu hari ini sudah lebih cepat kok, Beb. Besok pasti bisa lebih cepat lagi nyari makan buat anak2 kita." Tentu saja, ini cuma buat lucu-lucuan, di dunia nyata, tidak semua hewan bertanggungjawab atas nafkah anak2 mereka.

Jadi, tidakkah kita memperhatikan, jika rezeki binatang2 itu saja terjamin, maka kita pun akan terjamin. Tinggal bagaimana kita menjemputnya sekarang. Bersabar, terus tekun berusaha, tidak mudah menyerah.

Dan jangan lupakan nasehat kecil ini: binatang2 itu bahagia dengan rezeki mereka. Saya tidak pernah menemukan hewan yang mengeluh sedih, atau curhat. Tidak ada. Binatang2 itu bahagia dengan rezeki mereka. Kenapa mereka bisa bahagia? Karena mereka selalu merasa cukup dan senantiasa bersyukur.

Semua manusia itu dijamin rezekinya, sepanjang mau berusaha. Dijamin cukup. Tapi tidak semua dari manusia dijamin akan MERASA cukup. Karena bagi orang2 yang serakah, rakus, bahkan di rumahnya ada 10 mobil super mewah, dia tetap tamak, dan orang2 ini sangat berbahaya, karena mereka tega menzalimi, mengambil rezeki orang lain demi memenuhi nafsu belaka.

Kita ini kadang lupa, bahkan seekor singa buas, tidak akan membunuh kijang kedua hanya karena dia tamak. Sekali singa kenyang, dia tidak akan berburu lagi, mengumpulkan daging.

Manusia, kadang lebih binatang dibanding binatang--padahal Allah, memberikan kita petunjuk hidup.

*Tere Liye



Tidak ada komentar:

Posting Komentar