Kamis, 10 Oktober 2013

BELAJAR DARI SEPASANG MANYAR


Aku sedang duduk termenung 
dan murung 
sambil memandangi embun-embun 
jatuh di ujung daun.
Waktu itu, aku melihat burung-burung Nuri
yang sedang riang menari-nari
di ranting-ranting Kenari.

Satu burung lalu hinggap di ujung tanganku,
mematuk-matuk lembut ujung jariku.
Ia seolah-olah berkata,”Mengapa murung?
Yuk, ikut bergabung,
bersama kami menari pun bersenandung!”.
Aku tersenyum senang,
melihat burung itu mengepak-ngepakkan
sayapnya dengan riang ke arah taman.

Lalu mataku menatap keluar jendela yang terbuka.
Di sana,
ada sepasang burung Biru Manyar
yang sedang giat membuat sarang
di dahan rambutan.
Mereka sangat kompak berduaan,
silih berganti mengambil ranting dan rerumputan
untuk membuat sebuah sarang yang nyaman.
Sarang nyaman buat anak-anak tersayang.
Olala, hebatnya mereka bekerja dengan sangat riang.

Ah, kenapa aku tak sesemangat dan segiat mereka?
Aku selalu lesu menghadapi setumpukan kerja
di atas meja.
Aku selalu menunda-nunda masa
dalam membuat karya.
“Sekali lagi ini pelajaran bernilai berlian!”.
Gumamku seraya mengepalkan tangan.

Aku harus bangun
dari murung pun melamun.
Aku harus bekerja dan berkarya.
Aku engga mau kalah semangat dan riang
sama Manyar pembuat sarang
dalam menghadapi kehidupan.

Sejam kemudian,
Aku melihat Manyar sepasang
telah tuntas membuat sarang.
Kini mereka gantian memberi makan anak-anak tersayang.
“Yesss,
aku pun harus suksesss!!!”.
Sekali lagi aku mengepalkan tangan.
Dalam perasaan,
waktu itu aku seakan-akan
telah menendang pantat Sang Kemalasan
dari dalam perasaan.
Dan semangat di dalam dada kian membara,
ketika kubaca tulisan berupa kata-kata mutiara di atas meja.
Tulisan menyentil hati
dari IBNU QOYYIM AL-JAUZI.
Tulisan bermutu itu begitu meninju kalbuku
“JIKA HARI BERLALU
DAN SAYA TIDAK BERKARYA SERTA MENDAPATKAN ILMU,
MAKA ITU BUKAN KEHIDUPANKU!”


*Buddy Rahmadinovich


Tidak ada komentar:

Posting Komentar