Kamis, 10 Oktober 2013
BALADA SARJANA PAS-PASAN JADI PENGUSAHA JEMPOLAN
Ia tamat kuliah dan jadi sarjana
dengan nilai pas-pasan .
Kemudian seperti sarjana menyedihkan lainnnya,
mencari lowongan pekerjaan
dan senantiasa mendapat penolakan yang menyebalkan.
Melamar jadi pegawai negeri,
karena “TAK PUNYA UANG SEPETI SERTA KONEKSI”,
ketika pengumuman penerimaan hanya bisa gigit jari.
Akhirnya Sang Sarjana hanya bisa kerja serabutan.
Jadi pengojek siang-siang
dan malam jadi Satpam penjaga Restoran.
Bosan kerja serabutan,
akhirnya ia mencoba bekerja melanglangbuana.
Ia bekerja di Malaysia.
Malangnya, di sana ia ternyata hanya jadi kuli.
Kerja rodi setengah mati seperti di jaman kompeni.
Tak betah kerja seperti ini,
ia pun pulang dengan gaji enam bulan di tangan.
Di Jakarta, dengan uang tabungan pas-pasan
ia mencoba peruntungan: membuka lapak Koran.
Hidup di Jakarta memang penuh perjuangan.
Lapak korannya berkali-kali kena penggusuran
dengan alasan mengganggu keindahan dan ketertiban.
Bosan ngotot-ngototan dan pelotot-pelototan
dengan SATPOL PP yang kadang-kadang kejam
tak berperasaan,
lapak Koran ia tinggalkan.
Ia kemudian menyewa ruko bobrok luar biasa
yang tak terurus oleh yang punya.
Karena merasa iba,
dan daripada ruko diisi dedemit, jin iprit,
Sundel Bolong, Gendruwo, Kolor Ijo,
Wewe Gombel end friend-friendnya,
sang empuya merelakan sang sarjana
jadi penghuni manis di sana.
Sang Sarjana mulai membeli laptop bekas.
Membikin situs dengan nama yang berbau-bau cadas.
Di situ ia mulai jualan online mulai dari buku,
baju sampe panci-panci favorit ibu-ibu.
Mula-mula jualannnya berjalan so-so aza
alias biasa-biasa aza.
Ketika meminta advis pada teman-temannya,
Bukannya dibantu dengan dana
Juga dengan dorongan dan do’a,
Ia malah diketawain mereka.
Hebatnya, ia tidak putus asa.
Ia terus berdoa pada Tuhan Yang Maha Kaya.
Terus berjalan dengan keyakinan, kejujuran
Serta dengan kegigihannya.
Orang bilang,
ia seorang pemuda
yang teguh kukuh berlapis baja.
(Caila, kayak lagu perjuangan aza!)
Kemudian ia pun bergabung dengan mesranya
dengan komunitas sesama pengusaha.
Setelah gabung dengan mereka,
jalan kesuksesan seolah dibuka Oleh Tuhan untuknya.
Jualannya mulai lancar tanpa koma.
Dalam jangka setahun saja,
ruko butut itupun berhasil jadi miliknya.
Ia juga membeli tanah di belakangnya
dan dijadikan ruko-ruko mungil
yang ia sewakan pada pedagang-pedagang kecil.
Sewanya dengan harga “Sangat Persahabatan”.
Uang hasil bisnisnya ia gunakan
membeli tanah murah
yang punya masa depan cerah
Di sana ia membuat kost-kostan
dengan uang sewa “YANG TIDAK MEMBERATKAN”
Jualan sang sarjana
juga sudah merambah hingga
jualan mobil dan property.
“Semua barang saya jual ke pembeli, kecuali…, ”
Katanya pada suatu hari.
“Apaan?”
Tanya saya penasaran.
“Kecuali barang haram dan jual diri!”
Katanya seraya berha-ha-hi-hi.
Ya, sarjana pas-pasan
ini berhasil mencapai kesuksesan.
Ia punya istri sholehah
Anak-anak yang berwajah cerah.
Ia juga punya rumah megah
dan beberapa kendaraan mewah.
Ia punya berhektar tanah.
Hebatnya, Ia juga tak lupa berlimpah bersedekah.
Satu waktu ketika berbicang dengannya,
saya mendengar kata-katanya
yang kayak petuah embah-embah saja:
“Orang yang tak cerdas seperti saya
bisa berhasil karena dekat dengan Tuhan.
Karena punya kejujuran dan kegigihan.
Bila kita punya kegigihan
dalam menghadapi hidup ini,
maka meskipun kamu
punya otak tak sepintar orang lain,
kamu kemungkinan akan lebih berhasil
daripada orang yang cerdas tapi malas.
Ingat Pepatah Cina Kuno, Bro!
“KARENA KEGIGIHAN,
SEORANG BODOH SEKALIPUN
DAPAT MEMINDAHKAN GUNUNG!!!”.
*Buddy Rahmadinovich
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar