Senin, 21 Oktober 2013
*Berbuat sesuatu
Akan saya kisahkan sebuah cerita. Anggap saja fiksi, biar kalian tidak terbebani pikiran macam2. Sederhana saja kisah ini, menjurus klasik, bahkan belum usai cerita, kita bisa menebak ujungnya.
Jadi, pada suatu hari, ada sebuah acara yang digelar di aula besar sebuah kota kecil. Dihadiri banyak orang, dihadiri oleh orang2 penting. Acara ini khusus tentang memotivasi dan menginspirasi anak2 muda agar berbuat baik. Maka biar afdol, dihadirkanlan tiga orang bintang tamu yang paling brilian dari kota tersebut. Orang2 yang dilahirkan di kota tersebut, dan sekarang sudah jadi orang sukses.
Yang pertama, beliau ini sudah jadi dokter di ibukota. Lulusan kampus terkenal, jadi dokter di rumah sakit terkenal, dan pasiennya banyak, menulis di kolom2 koran, majalah, menerbitkan buku, sering muncul di televisi. Semua orang tahu dokter ini--termasuk yang tinggal di kota lain, mendengar kisah hidupnya, perjalanan panjang menempuh karirnya, membuat seluruh peserta acara terpesona. Dokter ini bilang kota kecil mereka inilah sumber inspirasi dia menjadi dokter, masa kanak2, masa sekolah di kota tersebut. Bertepuk-tangan riuh seisi aula. Benar2 memotivasi dan menginspirasi.
Giliran pembicara kedua, beliau ini seorang pengusaha. Jatuh bangun jadi pengusaha. Kadang rugi, ditipu, bangkrut. Tapi lebih sering dan tidak pernah berhenti untuk bangkit. Perusahaannya banyak, ada di mana2, termasuk di kota mereka. Memberikan jalan rezeki, pekerjaan bagi orang2. Pengusaha usia empat puluhan ini terkenal dermawan dan baik hati. Mendengar kisah hidupnya membuat aula hening, lantas kemudian ramai oleh tepuk-tangan. Pengusaha ini bilang, kota ini juga adalah sumber motivasi terbaiknya, masa kanak2, masa sekolah di kota tersebut.
Giliran pembicara ketiga, beliau ini pejabat publik. Di koran2, banyak berita yang memuat tentang dirinya. Dan terbalik dengan berita2 pejabat lain yang lebih banyak negatifnya, beliau ini lebih banyak berita positifnya. Contoh politikus yang berbudi dan peduli. Dia juga jatuh bangun jadi pejabat publik. Pernah difitnah, pernah dituduh, intrik politik dsbgnya. Tapi dia selalu ingat nasehat masa kanak2nya, agar jangan berhenti berbuat baik, maka dia memutuskan menjadi politikus yang tangguh, tetap jujur. Karirnya sudah melesat cepat, hanya soal waktu dia terus menanjak naik ke atas. Aula itu juga ramai oleh tepuk-tangan.
Tiga pembicara sudah bercerita, dan semua cerita mereka amat memotivasi dan menginspirasi peserta acara yang rata2 masih anak muda. Sepertinya sesi tanya jawab akan segera dimulai, beberapa sudah mengacung tidak sabaran hendak bertanya, tapi entah kenapa moderator bilang, masih ada satu lagi pembicara penting yang harus didengarkan. Aula terdiam, menatap panggung, dari pintu belakang, muncul seseorang yang sudah sepuh, usianya tujuh puluh. Laki-laki, rambutnya beruban, datang dengan pakaian amat sederhana, mengenakan selop, memegang tongkat. Bapak tua ini mau bicara tentang apa?
Moderator dengan sopan meminta Bapak sepuh ini bercerita apa profesinya selama ini. Aula masih hening. Bapak itu mengangguk, dia mulai bercerita. Tapi ceritanya tentu saja tidak 'sehebat' tiga pembicara sebelumnya. Dia pensiunan guru SD, sudah sepuluh tahun pensiun. Menjadi guru sejak usia dua puluh, lulus SPG (setara SMA). Jadi honorer berpuluh tahun, lantas diangkat jadi PNS di ujung2 pengabdiannya. Dia menjadi guru yang baik, berusaha mengajar tepat waktu, berusaha peduli atas murid2nya. Sekarang di usianya yang 70-an, dia tinggal berdua dengan istrinya--yang sama sepuhnya. Anak2nya sudah besar, merantau ke kota lain. Menghabiskan masa pensiun dengan damai dan tenteram.
Aula masih diam, lantas apa poinnya? Di mana letak motivasi dan inspirasinya bapak sepuh ini? Peserta saling toleh.
Pertanyaan itu tidak butuh waktu lama untuk dijawab. Ketika si dokter bangkit, mencium tangan bapak2 itu, juga si pengusaha ikut mencium tangannya, dan terakhir di si pejabat publik menangis, mencium tangannya, maka penjelasan segera terbuka. Bapak sepuh inilah guru SD mereka dulu, masa kanak2 yang penting, yang menanamkan budi luhur, kerja keras, dan semangat belajar yang tinggi. Si pejabat publik berkata pelan, "Setiap kali saya ingin berhenti menjadi politikus, saya selalu ingat nasehat guru saya dulu, dia bilang, kita tidak berhenti berbuat baik hanya karena satu dua masalah." Bapak sepuh itulah yang bilang kalimat2 yang terus dikenang murid2nya.
My dear anggota page, anggap saja kisah ini fiksi--meski sebenarnya, di luar sana, berserakan contoh nyata hal ini (yang bahkan lebih mengharukan). Ambil pelajaran terbaiknya, kita tidak perlu jadi presiden untuk bermanfaat, memotivasi dan menginspirasi orang2 di sekitar. Kita tidak perlu menjadi orang2 yang bergelimang harta, pengetahuan, untuk bisa membantu, memberikan jalan kebaikan bagi orang2 di sekitar. Bahkan seorang guru SD, yang akhirnya pensiun dalam kesederhanaan, dia tetap bisa menjadi potongan mozaik indah dalam kehidupan. Pun kalaupun dunia ini tidak mencatatnya, pun kalapun kita tidak perlu menjelaskannya, dia tetap spesial, istimewa. Karena sungguh, kemuliaan hidup tidak akan tertukar satu senti pun.
Jadilah apapun, bermanfaat dan berahklak baik. Kitalah yang menjalani hidup masing2.
*Tere Liye
Sabtu, 19 Oktober 2013
Sendiri
Tidakkah kita memikirkan
Jangan-jangan purnama yang bercahaya indah itu
Ternyata kesepian
Menatap kita dari atas sana, dalam lengang
Sendirian.
Tidakkah kita memperhatikan
Jangan-jangan gunung kokoh berdiri menjulang itu
Ternyata kesepian
Menatap kita dari puncaknya, dalam senyap.
Sendirian.
Tidakkah kita mengamati
Jangan-jangan hidup orang-orang besar
Yang gemerlap diperhatikan orang banyak
Yang menjadi bahan pembicaraan
Yang begitu memesona, begitu hebat
Ternyata kesepian.
Sendirian.
Maka bersyukurlah yang memiliki keluarga
Memiliki teman2 terbaik
Boleh jadi, kitalah bulan purnama dalam hidup ini
Kitalah gunung kokoh bagi mereka
Dikelilingi orang2 yang menyayangi kita
Dan kita menyayangi mereka.
~Tere Liye~
Sajak Karang.
Baginya pagi adalah waktu yang paling indah
Dalam potongan 24 jam sehari
Sedikit terasa lebih indah ketika pagi datang,
sedikit perasaan legah memenuhi sepotong hatinya
Matahari tenggelam di bawah kaki langit cakrawala
Semburat jingga senja bersamanya saat bercerita
6 kuntum bunga dan potongan kejadian masa lalu
Baginya pagi adalah waktu yang paling indah
Ketika Janji-janji itu baru muncul
Seiring embun menggelayut di ujung dedaunan
Ketika harapan-harapan baru merekah
Bersama kabut yang mengambang,..
Matahari tenggelam di bawah kaki langit cakrawala
Semburat jingga senja bersamanya saat bercerita
Cinta 2 kuntum bunga’
dengan pengertian dan pemahan cinta yang berbedah
Baginya pagi adalah waktu yang paling indah
Dari potongan 24 jam sehari
Matahari tenggelam di bawah kaki langit cakrawala
Semburat jingga senja bersamanya saat bercerita
Tentang 4 kuntum bunga’ yang hebat
menumbuhkan kekuatan tuk mengugurkan kesedihan
Ceritanya melesat, melepas hari-hari begitu cepat,..
Ceritanya merekah
Menumbuhkan pengertian
Waktu akan mengajak hatinya berdamai
Menumbuhkan pemahaman
Hakikat memilikinya
Dengan tidak terlalu menginginkannya
Ceritanya melesat, melepas hari-hari begitu cepat,..
Ceritanya merekah
Di antara ceritaku,.. ceritamu,.. cerita banyak kepala,..
Seperti ,..
di titipkannya Kesempatan pada guratan takdir’Mu
Seperti,..
Engkau kehendaki mawar itu tumbuh di atas tegarnya karang
Ceritanya merekah
di dalam kamar pemahaman baru
Dari cerita miliknya.
Aku titipkan seluruh urusan ini kepada-Mu Tuhan
Tentang satu ruang kecil yang ku miliki
Menerima kata cukup
Atau
belajar lagi tentang kata kesempatan,…
ceritanya terus merekah menumbuhkan pengertian,..
~Enn Sumarwanty~
Diambil dari novel sunset bersama rosie
*Pelampiasan
Ada seorang guru, beliau ini pernah dimasukkan ke dalam penjara atas tuduhan yang mengada-ada saja. Bertahun2 lamanya mendekam di balik jeruji, diputus dari kehidupan. Dan akibatnya bukan hanya ke dia secara pribadi, tapi keluarganya susah. Tulang punggung, yg mencari nafkah dipenjarakan, istrinya harus bertahan hidup dengan anak2 yang masih kecil dan banyak.
Marah? Jengkel? Protes? Saya tidak tahu bagaimana perasaan guru ini. Tapi yang saya tahu persis, dia 'melampiaskan' seluruh masalah hidupnya itu dengan dua hal. Satu, dia mengadukan langsung kepada Tuhan. Dua, dengan menulis. Guru ini menghasilkan karya terbesarnya dari balik penjara. Tidak banyak orang yang bisa menulis kitab tafsir Al Qur'an di negeri ini. Hanya hitungan jari, dan guru ini salah-satunya. Menyelesaikan tafsir Al Azhar dari balik penjara.
Juga orang2 lain di jaman dulu. Seorang pelukis yang hidupnya sedang galau, masalah bertubi2 datang, maka dia melampiaskan masalah tersebut dengan melukis. Melahirkan masterpiece. Seorang adventurir yang sedang jengkel, maka dia melampiaskan dengan berpetualang lebih jauh lagi. Orang2 jaman dulu punya penyaluran yang efektif dan bermanfaat. Ada yang memutuskan bekerja lebih giat, lebih semangat, berusaha melupakan sesak di hati. Ada yang memutuskan terus belajar, sekolah tinggi, menyibukkan diri, berusaha menghilangkan rasa marah, frustasi. Ada yang membuat/merajut pakaian, ada yang masak, ada yang bertaman/berkebun, dsbgnya, dsbgnya. Apapun itu, memilih menapak titik lebih tinggi dan bermanfaat.
Apa mau dikata, perasaan marah, jengkel, atau rindu, kangen, atau benci, kecewa, atau galau, menunggu, dan berpuluh perasaan lainnya memang butuh pelampiasan. Masalah hidup yang kita temui sehari2 memang butuh penyaluran agar kita tidak pecah, jebol, memikirkannya sendirian. Maka, teladan orang2 ini sungguh mengagumkan, mereka melampiaskannya dengan cara tepat, menyalurkannya sekaligus agar bermanfaat.
Hari ini, semoga kita mengikuti teladan mereka. Itulah gunanya punya hobi yang bermanfaat, aktivitas positif, agar kita punya alternatif yang baik. Saat kita galau, please salurkan dengan cara yang keren. Saat kita marah, kecewa, juga salurkan dengan cara yang keren. Bukan sebaliknya, hobinya internetan, aktivitasnya jejaring sosial, saat galau, marah dan kecewa, maka hanya itulah tempat menyalurkannya. Berceceran di mana2, bahkan entah kita malu atau tidak, menyadari atau tidak. Bukannya masalahnya selesai, tapi malah membocorkan aib--yg sungguh dilarang. Bukannya bermanfaat atau efektif, malah membuat diri sendiri semakin rumit, jalan di tempat.
*Tere Liye
*Misteri Indah
Mau jadi apapun kita kelak, mau diisi apapun hidup ini, apapun pilihan kita, maka penting sekali memahami nasehat lama ini: barang siapa yang memulai perjalanan, lantas tekun dan teguh atas perjalanan tersebut, maka insya Allah, dia akan tiba di ujung perjalanan.
Kita mau jadi penulis misalnya, maka mulailah perjalanan menjadi penulis tersebut. Tekun. Teguh. Maka insya Allah kita akan tiba di ujung perjalanan, sebagai penulis--dengan definisi terbaiknya, suka menulis. Tidak akan tertukar tiba2 jadi pemain bola atau penyanyi. Kita mau jadi seorang guru, maka mulailah perjalanan menjadi guru. Tekun. Teguh. Maka, mau bagaimanapun keterbatasan kita, insya Allah kita akan tetap jadi seorang guru. Bahkan tanpa pendidikan formal sekalipun, jika dimulai perjalanannya, kita tetap bisa jadi guru yang dicintai murid dan mencintai murid2nya.
Mau jadi pemain bola, pengusaha, astronot, dokter, insinyur, apapun itu, selalu dimulai dengan awal perjalanan. Ada yang direncanakan dengan baik, ada yang 'kecelakaan' saja. Ada yang disuruh orang lain (orang tua), ada yang hanya iseng, coba2, tapi mau bagaimanapun desain awalnya, sekali dimulai perjalanan tersebut, terus berada di jalannya, tidak belok2, maka persis seperti sebuah bus yang menuju tujuan tertentu, insya Allah, kita akan tiba. Mogok. Pecah ban, kehabisan bensin, apapun masalahnya, sepanjang terus maju, akhirnya sampai juga.
Maka, mulailah sadarilah hakikat sederhana ini. Karena nasehat ini, juga jelas punya sisi tajam yang mengkhawatirkan. Apa itu? Bagi orang2 yang memulai perjalanan jadi 'pengangguran', maka besok lusa, dia akan tetap di atas jalan pengangguran tersebut. Bagi orang2 yang memulai perjalanan kemalasan, banyak mengeluh, maka besok lusa, dia akan tetap di atas jalan kemalasan tersebut. Dan barang siapa yang tetap di situ2 saja, tidak memulai sesuatu, merasa nyaman atau tidak peduli, menyia2kan waktu, maka dia akan tetap berada di jalan itu. Jalan di tempat.
Esok lusa adalah misteri indah dari Tuhan. Disimpan rapat-rapat, tiada yang tahu. Tapi kita bisa menyambutnya dengan baik jauh2 hari. Pilihlah jalan yang hendak kita tempuh, lantas mulailah perjalanan panjang tersebut. Ingat selalu, namanya juga perjalanan, maka pasti ada saja hal2 menyebalkan yang kita temui. Masalah2 teknis, hingga masalah2 serius yang kadang membuat kita berbelok, mengganti tujuan, pun termasuk balik lagi, batal. Dengan ketekunan, keteguhan, musafir mana pun akan tetap berada di jalan yang telah dia pilih, melewatinya dengan tulus, melewatinya dengan riang, maka insya Allah tiba di ujungnya.
Tiba di misteri indah milik Tuhan.
~Tere Liye~
*Kasih sayang sejati
Jika ada sebuah mesin motor mogok, maka pihak yang paling memahami kondisi mesin ini, paham bagian2nya dengan detail, bukan montir di bengkel. Bukan pula pemilik motor tersebut--karena banyak pemilik motor yang nggak ngerti sama sekali apa itu busi. Yang paling paham adalah: insinyur yang menciptakan mesin motor tersebut. Dia paham banget. Karena dia yang merancang desain awalnya, mulai dari digambar, disusun detail hingga suku cadang, baut dan bagian2 terkecilnya. Nah, untuk memudahkan montir dan pemilik motor, maka disertakanlah buku petunjuk atas mesin tersebut. Mulai bagaimana merawatnya, hingga bagaimana memperbaikinya jika rusak.
Maka, di atas muka bumi ini, pihak yang paling memahami tabiat manusia, jelas bukan manusia itu sendiri. Bukan psikolog, bukan orang tua, bukan kita--meski banyak diantara kita yang mengaku bisa memahami diri sendiri. Yang paling memahami tabiat manusia adalah penciptanya. Allah.
Allah-lah yang paling paham. Karena Allah-lah yang membuat kita, menyusun kita dengan fisik dan jiwa. Melengkapi kita dengan sifat2 yang ada. Allah-lah yang paling paham manusia itu seperti apa.
Dan kabar baiknya, Allah sungguh maha menyayangi kita. Allah memberikan petunjuk yang sangat baik untuk memahami tabiat manusia (kita) tersebut. Itulah sebabnya, di dalam Al Qur'an, didaftar begitu banyak sifat2 manusia. Mulai dari yang kecenderungan buruk, hingga yang kecenderungan baik. Pun, di dalam kitab suci, didaftar cara2 terbaik jika kita mentok atas sifat manusiawi kita. Diberikan solusinya. Diberikan cara 'memperbaikinya'.
Salah-satu solusi baik mengatasi sifat2 manusiawi kita jika eror adalah petunjuk dua kalimat yang diulang secara beruntun: "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS 94, 5-6). Kalimat ini diulang dua kali, dan itu tiada lain untuk menegaskan betapa pentingnya kalimat ini.
Allah sungguh maha penyayang, Allah sungguh menyayangi ciptaannya. Kita tidak pernah dibiarkan rusak, eror, ngaco dalam hidup ini. Kita TIDAK PERNAH dibiarkan sendirian menghadapi sifat yang melekat pada kita sendiri. Kita diberikan lampu petunjuk paling mengagumkan yang pernah ada. Nah, tinggal kitanya, apakah mau menuruti petunjuk tersebut, meyakininya, atau sebaliknya terlalu banyak alasan, ngeles, bersifat lidah, seperti amatiran sok tahu yang sedang membongkar mesin motor. Bukannya mengikuti petunjuk, malah berimprovisasi sendiri, hingga bukannya beres mesinnya, tapi malah tambah rusak.
Mungkin hal ini menarik jika direnungkan.
~Tere Liye~
*Pamer pesek
Apakah kita kesal melihat seseorang (misalnya cowok) yang berpenampilan keren, bawa mobil kemana2, punya jam tangan mahal, tas mahal, gagdet mahal, pamer kemana2, bergaya, tapi sebenarnya itu semua pemberian dari orang tuanya? Dia sok kaya, sok pamer atas segala sesuatu yang bukan usaha dia? Hanya karena anak orang kaya saja?
Apakah kita kesal melihatnya?
Maka, apakah kita juga tidak kesal, jika kita sendiri kemana2, pamer betapa cantik dan tampannya kita, sok ingin terlihat menawan, keren, mulai dari foto, hingga apapun, dipamer2kan, dibanggakan, disombongkan, padahal wajah kita itu, fisik tubuh kita itu adalah pemberian Allah? Simply diberikan begitu sejak lahir?
Maka, mungkin menarik dipikirkan. Karena kasusnya akan terbalik sekali jika kita ternyata berwajah seadanya, berhidung pesek misalnya. Apa yang akan kita lakukan?
*sy minta maaf buat yang pesek, sy jadikan contoh, karena sy juga pesek
~Tere Liye~
*Angka2 yang melapangkan
Jika kita disuruh berhitung dari angka 1 sampai dengan 100.000 selama 24 jam, siang malam, tidak boleh tidur, tidak boleh makan, terus saja berhitung, maka, rasa-rasanya, kita semua tidak akan kuat. Berhitung hingga 1.000 saja sudah ribet, apalagi hingga 100.000, bisa keplintet, plintet bibir kita berhitung. Tapi ada yang bisa melakukannya, terus 'berhitung', tiada henti, tiada error, terusss saja 'berhitung', siang malam, tiap menit, tiap detik, sesuai dengan ritmenya, itulah jantung kita. Menurut penelitian, jantung manusia rata2 berdetak 72 kali setiap menit, alias 103ribu kali selama 24 jam, tidak bosan, tidak lelah, tidak tertukar. Jika usia kita hingga 66 tahun, maka itu berarti jantung kita berdetak tiada henti hingga 2,5 milyar kali. Baru berhenti jika kita telah dingin membeku.
Sungguh besar kasih sayang Tuhan.
Pernahkah kita berdiri di bawah air terjun? Pasti banyak yang pernah. Amat menyenangkan duduk di bawah air terjun setinggi 2-3 meter, seperti dipijat oleh airnya. Jika tingginya 4-10 meter, pijatannya semakin keras. Jika tinggi air terjunnya 100 meter? Coba saja kunjungi, banyak air terjun di Indonesia yang tingginya diatas 100 meter. Bukan dipijat lagi, derasnya air jatuh bahkan bisa membahayakan. Nah, jika air terjunnya seperti Angel Falls, Venezuela, yang tingginga nyaris 1000 meter? Saya belum pernah ke Venezuela, tapi rasa2nya berdiri di bawah air terjun itu, menyambut derasnya air, sama saja mencari masalah. Tapi, sungguh Tuhan punya skenario yang sempurna saat menurunkan hujan. Tinggi awan2 itu ribuan meter, bahkan awan cumulus nimbus bisa menjejak tinggi 16 kilometer. Apa jadinya jika air hujan diturunkan seperti menumpahkan air dari ember? Binasa semua kehidupan di bawah, terkena tsunami vertikal. Tuhan mendesain, menurunkannya dengan tetes-tetes air saja. Yang saat turun, bahkan sedemikian rupa bisa melambat dengan sendirinya (tidak seperti batu jatuh yg justeru semakin cepat), tetes air hujan tiba di permukaan bumi hanya dgn kecepatan 6-30km/jam. Kecepatan yg sangat aman. Kaca mobil tidak pecah, kepala manusia tidak berdarah, atap rumah tidak berlubang. Menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Sungguh besar kasih sayang Tuhan.
Ada banyak sekali 'angka2' di sekitar kita. Tidak perlu pengetahuan matematika atau pengetahuan alam tingkat tinggi untuk memahaminya. Dengan resep kecil: selalu menggunakan sudut pandang yang berbeda, maka semoga semua hal itu mampu memberikan rasa lapang di hati. Rasa bersyukur. Bahwa hidup kita ini selalu dalam naungan kasih sayang Tuhan. Tidak terkecuali--bahkan orang jahat sekalipun.
Sungguh besar kasih sayang Tuhan.
*Tere Liye
*Rahasia rakus
Monyet itu makan buah2an di hutan. Apa saja dia makan. Favorit makanan monyet--menurut pemahaman semua orang--adalah pisang. Wah, sepertinya pisang ini lezat sekali bagi monyet. Maka pertanyaannya adalah, bagaimana caranya monyet ini bisa makan buah-buahan? Jangankan disuruh berkebun, menanam pisang. Disuruh yang lebih mudah saja, makan tanpa belepotan misalnya, susah. Bagaimana mungkin Tuhan menciptakan monyet, yang tidak punya kemampuan berkebun, bagaimana cara agar monyet ini bisa bertahan hidup di dalam hutan sana?
Cicak itu merayap di dinding. Makanannya adalah nyamuk, hewan yang bisa terbang. Satu hanya merayap, satu lagi bisa terbang kemana2. Aduh, lagi-lagi, bagaimana mungkin Tuhan menciptakan cicak yang merayap dengan makanan nyamuk yang terbang? Nggak setara sama sekali. Bagaimana itu nyamuk akan menangkap nyamuk? Tidak masuk dalam pikiran.
Belum lagi kura-kura. Sudah lambat, merangkak pula, susah kemana2? Bagaimana mungkin si kura-kura ini bisa menafkahi keluarganya? Jangan2 istri si kura-kura akan terus teriak ke suaminya, "Kamu ini, sudah lelet, cuma tidur2an, lihat, anak2 kita minta makan. Ayo kerja sana."
Apalagi cacing, kerjaannya cuma merambat di dalam tanah. Bagaimana dia cari makan? Bahkan entahlah kenapa cacing itu bisa besar2. Makan humus? Makan tanah? Kecuali yang masuk ke dalam tubuh manusia/hewan, wajar bisa beusar-beusar, karena inangnya berlimpah makanan. Pun binatang2 lain, yang melata di muka bumi, yang berlari di atas bumi, yang berenang, yang terbang. Terkadang logika mencari makan mereka susah dipahami.
Tapi ternyata mereka hidup semua. Cicak misalnya, tidak ada yang memposting di jejaring sosial: "aduh, nasib malang, seharian saya merayap mengejar nyamuk, nggak berhasil-berhasil." atau posting yang lebih serius: "ya Allah, kenapa aku nggak dikasih sayap sih? dan si nyamuk itu merangkak?" Nyatanya tidak. Si cicak sukses menangkap banyak nyamuk. Apa resepnya? Bersabar mengintai. Bersabar mencari posisi paling strategis. Lantas saat si nyamuk mendekat, hap! lalu ditangkap. Bersabar dalam usaha yang sungguh membutuhkan rasa sabar.
Juga monyet, mereka beramai2 terus mengelilingi hutan, mencari makanan. Naik, turun, kiri, kanan, depan, belakang. Terus menyisir setiap jengkal hutan mencari nafkah. Mereka memang tidak bisa bercocok tanam, tapi mereka bisa mencari rezeki yang dijanjikan Allah bagi keluarga monyet2 ini. Dan kura-kura pun tidak cemas. Meski mereka lambat, mereka tetap mencari rezeki tersebut. Boleh jadi, istri si kura-kura selalu menyemangati suaminya, "Kamu hari ini sudah lebih cepat kok, Beb. Besok pasti bisa lebih cepat lagi nyari makan buat anak2 kita." Tentu saja, ini cuma buat lucu-lucuan, di dunia nyata, tidak semua hewan bertanggungjawab atas nafkah anak2 mereka.
Jadi, tidakkah kita memperhatikan, jika rezeki binatang2 itu saja terjamin, maka kita pun akan terjamin. Tinggal bagaimana kita menjemputnya sekarang. Bersabar, terus tekun berusaha, tidak mudah menyerah.
Dan jangan lupakan nasehat kecil ini: binatang2 itu bahagia dengan rezeki mereka. Saya tidak pernah menemukan hewan yang mengeluh sedih, atau curhat. Tidak ada. Binatang2 itu bahagia dengan rezeki mereka. Kenapa mereka bisa bahagia? Karena mereka selalu merasa cukup dan senantiasa bersyukur.
Semua manusia itu dijamin rezekinya, sepanjang mau berusaha. Dijamin cukup. Tapi tidak semua dari manusia dijamin akan MERASA cukup. Karena bagi orang2 yang serakah, rakus, bahkan di rumahnya ada 10 mobil super mewah, dia tetap tamak, dan orang2 ini sangat berbahaya, karena mereka tega menzalimi, mengambil rezeki orang lain demi memenuhi nafsu belaka.
Kita ini kadang lupa, bahkan seekor singa buas, tidak akan membunuh kijang kedua hanya karena dia tamak. Sekali singa kenyang, dia tidak akan berburu lagi, mengumpulkan daging.
Manusia, kadang lebih binatang dibanding binatang--padahal Allah, memberikan kita petunjuk hidup.
*Tere Liye
*Two Tower
Ketika menyaksikan film fantasi macam Lord of The Ring, orang2 boleh jadi ngeri saat melihat Mount Doom, gunung berapi yang dikuasai oleh Sauron. Itu film fantasi, jadi ya begitulah.
Tapi di dunia nyata, tidakkan orang2 mulai memahami kalau kita punya Mount Doom yang sebenar2nya. Di dekat rumah kita, perlahan tapi pasti, mulai meninggi, sebuah gunung yg disebut seluruh dunia dengan sebutan super volcano.
Tahun 1883, ketika meletus, gunung ini hanya setinggi 798m, tapi di perutnya yang berada di dalam laut, menggelegak magma dahsyat. Suara letusan gunung ini di tahun tersebut sampai ke Perth, Australia, 3.000 Km selatan Bumi, dan hingga ke Mauritius, 4.000 Km. Langit bumi menjadi gelap, suhu udara turun, dunia berubah sesaat setelah letusan terjadi. Jika bom atom yg dilepaskan ke Hiroshima kekuatannya adalah 1, maka saat gunung ini meletus, kekuatan letusannya 13.000 x dari bom atom itu.
Tahun 1883, hanya ada 978 juta penduduk bumi, korban jiwa yang tercatat ketika letusan ini terjadi adalah 36 ribu orang lebih. ratusan desa, kota di sekitarnya hancur. Bukan hanya karena letusan, tapi oleh tsunami setinggi puluhan meter yang menyapu seluruh pesisir ratusan kilometer dari ledakan gunung. Dahsyat sekali ledakannya, jika seseorang berdiri 16 km dari gunung tersebut saat meletus, dia otomatis tuli karena suaranya. Butuh 5 tahun lebih hingga suhu bumi kembali normal.
Saat meletus, pulau tempat gunung ini berada hancur, apalagi gunungnya, hilang. Tapi tahun 1927, anaknya telah kembali, tumbuh 9 meter. Tahun 1933, tumbuh jadi 67 meter, tahun 1960 menjadi 138 m, tahun 1992 menjadi 250 m, dan tahun 2012, sdh tumbuh menjadi 813 meter. Gunung ini sudah lebih tinggi saat dulu meletus di tahun 1883.
Jika kalian punya waktu, silahkan membaca tentang gunung ini, Gunung Krakatau (Krakatoa), silahkan berselancar di dunia maya. Mau tahu atau tidak, mau peduli atau tidak, gunung ini akan terus tumbuh, menggeliat. Tahun 2012 meletus dengan skala kecil, melepaskan sebagian energinya. Tahun2 depan juga akan terus meletus, terus melepaskan energinya. Entah hingga kapan, ketika akhirnya energi besar itu tidak cukup dilepaskan sedikit2, tapi sekaligus, dengan letusan yang lebih besar. Apakah gunung ini akan meledak dahsyat? Saya tidak tahu. Tapi siklus alam adalah keniscayaan. Manusia tidak bisa memprediksinya, tapi hukum alam adalah keniscayaan.
Saya hendak 'bergurau', tapi ini serius. Jika negeri kita ini semakin rusak, negeri ini semakin kacau, dan tidak ada lagi yang tersisa orang2 peduli, maka mudah saja alam menghabisi kita. Meletus saja gunung Krakatau persis seperti 1883, seratus tahun lebih silam, maka itu sudah cukup untuk menghabisi kita. Sekali pukul, Banten, Jakarta, Lampung, Jawa Barat, langsung runtuh.
Sekali pukul, meletus, diikuti dengan gempa dahsyat, Jakarta bisa rata. Catat baik2, Hiroshima hancur oleh satu bom atom saja. Krakatau meletus dengan kekuatan 13.000 x bom atom Hiroshima, maka meski jarak Jakarta setidaknya 150 KM dari gunung ini, dampak letusan itu lebih dari cukup. Dan ingat baik2, suara letusan gunung Krakatau 1883, terdengar hingga 4000 KM jauhnya. Langit bumi menjadi gelap.
Kita tidak bisa mengalahkan alam. Sesombong apapun kita.
*Tere Liye
*Makan malam dan masa depan
Ada pasangan keluarga kaya raya, pemilik bisnis properti dan perdagangan besar di sebuah kota. Pasangan ini sudah separuh baya, dan hingga usia lewat 40 tahun, mereka tidak kunjung memiliki anak. Tidak memiliki keturunan yang diharapkan akan melanjutkan nama dan bisnis mereka. Situasi ini bukan hanya jadi beban pikiran keluarga tersebut, juga seluruh kota amat bersimpati atas situasi ini, karena jelas sekali, pasangan tersebut sudah kaya harta benda, pun kaya hatinya. Ringan membantu orang banyak.
Banyak usulan diberikan, saran2, dan setelah dipikirkan matang2, akhirnya pasangan tersebut memutuskan untuk mengadopsi anak. Mereka tidak akan mengambil anak2 usia balita, apalagi bayi, karena mereka tidak berniat memutus hubungan anak tersebut dengan orang tua kandung, mereka akan mengadopsi satu orang anak dengan usia 10-12 tahun, dibesarkan di keluarga mereka, dididik sebaik mungkin, agar memiliki kemampuan bisnis, perangai yang terpuji dan tentu bisa bermanfaat bagi banyak orang.
Pasangan ini membentuk komite untuk menyeleksi ribuan anak2 di seluruh kota. Itu kabar besar, maka banyak orang tua yang berharap anak mereka diterima. Itu sungguh kesempatan besar. Maka mendaftarlah anak2 yang pintar, tampan, anak2 yang sehat, anak2 yang gesit, periang, jago olahraga, punya bakat seni, semua kriteria hebat yang mungkin seharusnya dimiliki oleh seorang anak penerus sebuah keluarga kaya raya yang baik hatinya.
Hingga akhirnya, setelah berbulan2 seleksi, terpilih 10 anak saja, 10 nama yang diserahkan oleh komite seleksi kepada pasangan itu. Nah, dari 10 nama itu, terselip salahsatu anak dengan catatan yang ganjil sekali. Dia bukan anak paling pintar, test menunjukkan biasa-biasa saja. Dia bukan anak paling gagah, malah sebenarya paling kurus dan seperti anak kebanyakan. Tidak memiliki prestasi olahraga atau seni. Hanya satu secara fisik yang terlihat menonjol, anak itu terlihat riang. Tapi, namanya anak2 pastilah begitu semua, bukan?
Beberapa anggota komite seleksi sebenarnya sejak awal sudah mau mencoret anak tersebut. Tapi karena istri dari pasangan tersebut yang juga anggota komite terlanjur menyukainya, maka namanya terus masuk hingga 10 besar. Istri pasangan itu tidak tahu kenapa dia harus menyukai anak kurus itu, meski dengan hasil test yang tidak mengesankan, dia hanya merasa, anak itu berbeda dari anak2 lainnya. Suatu saat akan terlihat buktinya.
Diundanglah 10 anak itu ke rumah pasangan kaya tersebut untuk melewati ujian terakhir. Simpel saja, pasangan itu mengajak 10 anak-anak tersebut makan malam di sebuah meja besar, bersama anggota komite seleksi. Maka singkat cerita, makan malam spesial itu digelar. Berjalan begitu menyenangkan, begitu ramah--karena jelas, pasangan itu adalah tuan rumah yang tulus, mereka menganggap anak2 usia 10-12 tahun itu sudah seperti bagian keluarga sendiri. Semua anak makan dengan santai, bercakap2, bercerita. Pun pasangan itu, mereka asyik bercerita tentang kisah masa muda mereka, jatuh bangun mendirikan bisnis, sejarah perusahaan, bisnis apa yang mereka lakukan, dan sebagainya. Itu kisah yang hebat.
Nah, dari makan malam itu, yakin sudah pasangan itu akan pilihan mereka. Komite seleksi pun akhirnya paham, kenapa pilihannya harus demikian.
Siapa yang dipilih? Anak kurus yang tidak jenius, tidak jago lari, tidak pandai berenang, dsbgnya. Apa yang dilakukan anak ini hingga berhak memperoleh pilihan istimewa tersebut? Sederhana sekali. Lihatlah, hampir satu jam makan malam tersebut, dialah satu2nya anak yang tidak pernah menyuruh orang lain mengambilkan makanan buatnya. Dia memilih meraih sendiri teko air, mengambil sup, mengambil daging, semua dilakukan sendiri. Pun saat harus bangkit berdiri, mengambil gelas sirup yang posisinya jauh darinya, dia bangkit mengambilnya. Dan dialah juga satu2nya anak yang tidak banyak bertanya saat pasangan kaya itu bercerita tentang sejarah perusahaan. Saat makan malam selesai, suami pasangan itu menepuk pundaknya, "Kenapa kamu tidak bertanya seperti anak2 lain?" Dia hanya menjawab pendek, "Tuan sudah bilang diawal makan malam kalau semua cerita itu ada di buku ruang perpustakaan. Aku sudah berjanji, akan membacanya sendiri, mencari tahu sendiri. Apakah aku boleh membaca buku2nya?"
My dear anggota page, 20 tahun berlalu sejak makan malam itu, maka jagoan kecil yang kurus ini tumbuh sesuai harapan orang tua angkatnya. Dia jelas bukan yang paling pintar, tapi dia yang paling tekun. Dia memilih mengerjakan hal2 kecil sendiri, apalagi hal2 besar. Dia tidak pernah menyuruh2 orang lain bahkan hanya untuk mengambilkan pulpen yang jatuh, minta ambilkan gelas minuman. Pasangan kaya itu jelas menemukan sifat yang sama saat mereka masih muda. Tekun. Si kurus itu juga adalah pembelajar yang tangguh, mencari tahu sebelum bertanya, mencari penjelasan sebelum melempar pertanyaan. Meski sebenarnya memang enak saja tinggal bertanya. Selesai. Tahu lebih cepat malah. Tapi dia memilih mencari tahu sendiri, agar mengerti lebih banyak.
Dengan didikan yang baik, jagoan kecil ini tumbuh menjadi orang dengan perangai baik, menghormati orang sebayanya, pun menghargai orang2 lebih muda dibanding dirinya. Tidak mengeluh, tidak mudah berputus asa. Tetap rendah hati dan tahu diri. Sebenarnya 9 temannya juga diberikan beasiswa, pendidikan oleh pasangan tersebut--meski tidak dididik di rumah langsung, tapi tidak ada yang tumbuh dengan prinsip2 kehidupan secemerlang si kurus.
Kejadian makan malam itu selalu spesial. Anak2 yang sedari kecil sudah paham banyak hal, maka apa yang dilakukannya juga cermin dari pemahamannya. Maka, mulailah berguna untuk diri sendiri. Jangan mudah menyuruh2, jangan mudah berteriak minta tolong, apalagi jika itu sebenarnya karena konyolnya kita--seperti mencari barang milik kita yang terselip di mana gara2 kita memang berantakan. Jangan mudah bertanya, dikit2 bertanya, padahal di sekitar kita bertumpuk buku yang bisa dibaca, bertumpuk akses pengetahuan yang bisa diambil. Memang enak sih, dikit2 nyuruh, dikit2 nanya, semua tinggal tunggu beres, tapi ketahuilah, besok lusa kita sendiri yang akan rugi dengan tabiat tersebut. Dan dimana proses belajarnya kalau semua orang ingin serba instan?
My dear anggota page, jadilah anak2 yang mandiri. Jadilah remaja2 yang tahu persis harus melakukan apa. Maka kalian akan tumbuh lebih tangguh dibandingkan siapapun. Apakah kisah ini nyata? Silahkan tanya ke orang2 dewasa di sekitar kalian, ke orang tua kalian, boleh jadi mereka punya cerita yang sama persis soal ketekunan, soal pembelajar yang baik, dan harga mahal yg harus dibayar bagi orang2 yang menggampangkan prosesnya. Dengan belajar dari pengalaman orang lain, kita tidak perlu mengalami sendiri bagian yang tidak menyenangkannya.
*Tere Liye
Sabtu, 12 Oktober 2013
*Indahnya kasih sayang
Kenapa air terjun itu begitu indah, kawan?
Karena airnya jatuh terus menerus
Terus menerus, susul menyusul, berdebam
Sungguh tiada indahnya kalau hanya selintas
Itu sama seperti menuangkan air dari ember
Kenapa pelangi itu begitu indah, teman?
Karena merah kuning hijau dilangit yang biru itu menggantung
Pada posisinya, tetap, mantap,
Sungguh tiada indahnya kalau bergerak-gerak
Berganti-ganti posisinya, susah diikuti
Kenapa pagi itu terlihat indah, aduhai?
Karena ketepatan waktunya tiba
Bisa diprediksi, selalu datang sesuai janji
Sungguh tiada indahnya kalau ternyata bohong
Lebih cepat atau lebih lambat
Maka milikilah tiga sifat yang anggun tersebut,
Terus menerus seperti air terjun
Tetap, mantap seperti pelangi
Dan selalu datang sesuai janji seperti pagi
Begitulah selalu sifat kasih sayang yang baik, perasaan yang elok
Kalaupun kelak air kasih sayangnya habis oleh waktu, seperti air terjun yang habis
Dia tetap akan dikenang indah, berdebam terus menerus hingga janji
Kalaupun kelak redup warna-warninya karena sudah usai, seperti pelangi yang selesai
Dia akan tetap diingat istimewa, menggantung mantap hingga tamat
Dan kalaupun kelak ada kabut gelap, awan hitam, yang menutup pagi
Dia akan tetap dikenang spesial, karena pagi selalu datang
Selalu demikian.
*Tere Liye
Jumat, 11 Oktober 2013
KALAU KAU INGIN JADI SESEORANG MERANTAULAH KE NEGERI ORANG!
Saat Istirahat, Di bandara Soekarno Hatta saya berjumpa dengan seorang pemuda yang dengan gagahnya membawa travel bagnya. Ia lalu duduk di sampingku. Dengan ramah ia menyapaku.
“Anda tampak bahagia, Kawan?”Tanyaku
“Karena saya akan bekerja di Eropa!”
“Ah ya!”
“Ya, cita-cita saya untuk merantau ke negeri seberang menjadi kenyataan!”
“Untuk apa bekerja di negeri orang? Apakah di negeri sendiri sudah tak ada lowongan pekerjaan?”
“Saya ingin bekerja di negeri orang, karena saya ingin mencari pengalaman juga uang. Uang itu akan saya gunakan buat saya kuliah lagi, Bikin Ibu dan Bapak naik haji, membangun rumah, membeli tanah dan sawah serta membuat sekolah buat orang-orang yang kekurangan!”
“Duh, sungguh mulia cita-citamu itu.
By the way, anyway busway, di sana berapa gajimu?”
“40 jutaan!”
“Siuuus miapa?”Tanya saya menirukan iklan.
“Demikian! Itu menurut kontrak yang saya dapatkan!”
“Itu perbulan?”
“Benar Kawan, makanya doakan saya biar lancar bekerja di sana, ya!”
“Saya do’akan kamu sukses di negeri orang, Kawan!”
“Makasih, yuk saya duluan,ya!”Katanya seraya
berdiri lalu menuju tempat pemberangkatan.
Aku termangu-mangu. Lalu meneruskan pekerjaan menyapuku.
Di benakku tiba-tiba terngiang-ngiang kata-kata guruku dulu
yang membacakan puisi penuh motivasi
dari IMAM SYAFI’I.
.....................................................................................
Merantaulah...
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.
Merantaulah, kau akan dapatkan
pengganti dari kerabat dan kawan.
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan.
Jika mengalir menjadi jernih,
jika tidak akan keruh menggenang
Singa jika tidak tinggalkan sarang,
tak akan mendapat mangsa .
Anak panah jika tidak tinggalkan busur,
tak akan kena sasaran.
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam.
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang.
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
Jika hanya berada di dalam hutan..
Jika engkau tinggalkan tempat kelahirnamu,
engkau akan temui derajat mulia di tempat yang baru
dan engkau bagaikan emas yang sudah terangkat dari tempatnya.
Pergilah merantau untuk mencari kemuliaan
karena dalam perjalanan itu ada lima kegunaan,
yaitu: menghilangkan kesedihan,
mendapatkan penghidupan,
mendapatkan ilmu, mengagungkan jiwa,
dan dapat bergaul dengan banyak orang.
*Buddy Rahmadinovich
IJINKAN AKU MELEPASMU KEKASIHKU
Ijinkan aku melepasmu
Kekasihku!
Tanpa perasaan mendalam
Biar mataku bisa tenang terpejam
Tanpa muram
Tanpa lara menatap bulan suram
Di dahan malam
Ijinkan aku melepasmu
Tanpa pilu
Hanya rindu
Yang merapuh di dahan-dahan waktu
Ijinkan aku
Melepasmu
Tanpa bersama
Tanpa air mata:
Hanya kenangan tua
Tersisa di kusam jendela!
*Buddy Rahmadinovich
Kamis, 10 Oktober 2013
ADIL.
Ketika Allah menumpahkan berlaksa kasih sayangNya ke
muka bumi
Ketika Allah memperkenankan keajaiban datang memenuhi
harapan
Masihkah kita mempertanyakan akan kebesaranNya dan
janji-janjiNya??
ADIL.!!
Allah maha adil.!!
Semua yang tercipta adalah adil
Hidup ini selalu adil
Walau kadang belum tentu kita dapat melihat bukti
keadilan itu
karena kita terlalu bebal
terlalu bodoh
untuk mengerti dimana letak keadilan itu
kami terlahir lemah tanpa daya.. Ya Allah
kami lahir tidak melihat, kau berikan mata
kami lahir tuli, kau berrikan telinga
kami lahir bisu, kau berikan mulut
kami lahir tak bergerak kau berikan kaki
bahkan meski kami terlahir tanpa itu semua
Engkau sungguh!!
tetap membuat kami bisa melihat,
bisa mendengar, bisa bicara, dan bisa bergerak
sekali lagi kami yang sehat, normal, sempurna
fisiknya
memang makhluk yang paling menyedihkan didunia
karena keterbatasan akal pikiran kami
bukan berhubungan dengan tingkat kecerdasan
tapi kami manusia bebal, Bodoh.
Seorang gadis yang buta, tuli, bisu,
yang seolah terputus dari dunia dan seisinya
dia bisa mengenal dengan jemarinya
dia bisa melakukan banyak hal yang lebih, dari pada
orang orang
yang justru bisa melihat dan mendengar lakukan
dia melakukanya tanpa rasa takut,
keberanian, keteguhan hati, optimisme
dan dengan semangat hidup luar biasa yang pernah ada
dia mau maju
mau berubah
kita yang utuh memiliki seluruh panca indera
sudahkah kita peduli dan bersyukur??
kenalkah kami padamu ya Allah??
dan bisakah kami melakukan yang lebih besar dari yang
melati lakukan??
urusan ini seharusnya membuat kita malu dan
berpikir.!!
*diambil dan diadaptasi dari film moga bunda disayang Allah.
TULISANMU BERNYAWA MESKI KAU TELAH TIADA
Menulislah di mana saja.
Di kesunyian juga di keramaian manusia.
Jangan berhenti menulis,
meski hidupmu penuh tangis.
Karena tulisan yang berasal dari tangisan,
bahkan bisa mengajarkan orang tentang ketegaran
menghadapi kejamnya kehidupan.
Kalau kau ingin menuliskan perasaan
atau pengalaman,
tulislah karyamu, Kawan!
Jangan biarkan
idemu hanya berkeliaran dalam pikiran.
Jadikan ia sebuah tulisan yang berguna
buat orang yang membacanya.
Ketika ide datang mengetuk pintu pikiran,
cepat tangkap dan tuangkan.
Jadikan sebuah tulisan!
Jangan malu!
Jangan ragu!
Karena menulis bukan hanya kemauan,
keinginan dan angan-angan.
Ia adalah gerak sukma
yang menjelma dalam tindakan nyata.
Bahkan Seorang penulis Bestseller dunia.
Yang dijuluki “Raja Horor Dunia”
STEPHEN KING, pernah berkata
dengan indahnya:
“Menulis adalah mencipta.
Dalam suatu penciptaan
seseorang mengarahkan
tidak hanya semua pengetahuan, daya,
dan kemampuannya saja,
tetapi ia sertakan seluruh jiwa
dan nafas hidupnya.
Untuk menjadi penulis,
yang dibutuhkan hanyalah kemauan keras untuk menulis
dan kemudian mempraktekkannya,
orang yang hanya mempunyai kemauan untuk menulis
namun tidak pernah melakukannya.
Maka ia sama saja dengan bermimpi
untuk memiliki mobil sendiri,
tanpa ada usaha
dan kerja keras untuk memilikinya.”.
Teruslah menulis, jangan berhenti.
Karena tulisan yang bisa mengisi
cangkir-cangkir sunyi hati.
Akan terpatri abadi di dinding bumi.
Bukankah Sastrawan Besar
PRAMOEDYA ANANTA TOER, pernah indah berujar:
“TERUS MENULIS,
JANGAN BERHENTI,
KAPAN PUN
DI MANA PUN
KARENA TULISANMU TETAP BERNYAWA
WALAUPUN KAU SUDAH TIADA!”
*Buddy Rahmadinovich
BELAJAR DARI SEPASANG MANYAR
Aku sedang duduk termenung
dan murung
sambil memandangi embun-embun
jatuh di ujung daun.
Waktu itu, aku melihat burung-burung Nuri
yang sedang riang menari-nari
di ranting-ranting Kenari.
Satu burung lalu hinggap di ujung tanganku,
mematuk-matuk lembut ujung jariku.
Ia seolah-olah berkata,”Mengapa murung?
Yuk, ikut bergabung,
bersama kami menari pun bersenandung!”.
Aku tersenyum senang,
melihat burung itu mengepak-ngepakkan
sayapnya dengan riang ke arah taman.
Lalu mataku menatap keluar jendela yang terbuka.
Di sana,
ada sepasang burung Biru Manyar
yang sedang giat membuat sarang
di dahan rambutan.
Mereka sangat kompak berduaan,
silih berganti mengambil ranting dan rerumputan
untuk membuat sebuah sarang yang nyaman.
Sarang nyaman buat anak-anak tersayang.
Olala, hebatnya mereka bekerja dengan sangat riang.
Ah, kenapa aku tak sesemangat dan segiat mereka?
Aku selalu lesu menghadapi setumpukan kerja
di atas meja.
Aku selalu menunda-nunda masa
dalam membuat karya.
“Sekali lagi ini pelajaran bernilai berlian!”.
Gumamku seraya mengepalkan tangan.
Aku harus bangun
dari murung pun melamun.
Aku harus bekerja dan berkarya.
Aku engga mau kalah semangat dan riang
sama Manyar pembuat sarang
dalam menghadapi kehidupan.
Sejam kemudian,
Aku melihat Manyar sepasang
telah tuntas membuat sarang.
Kini mereka gantian memberi makan anak-anak tersayang.
“Yesss,
aku pun harus suksesss!!!”.
Sekali lagi aku mengepalkan tangan.
Dalam perasaan,
waktu itu aku seakan-akan
telah menendang pantat Sang Kemalasan
dari dalam perasaan.
Dan semangat di dalam dada kian membara,
ketika kubaca tulisan berupa kata-kata mutiara di atas meja.
Tulisan menyentil hati
dari IBNU QOYYIM AL-JAUZI.
Tulisan bermutu itu begitu meninju kalbuku
“JIKA HARI BERLALU
DAN SAYA TIDAK BERKARYA SERTA MENDAPATKAN ILMU,
MAKA ITU BUKAN KEHIDUPANKU!”
*Buddy Rahmadinovich
Langganan:
Komentar (Atom)
















