Aku sangat tahu arti sebuah kesedihan
dan berdiri sepanjang hari, sepanjang bulan dan kini sudah hampir setahun ku
sering berdiri di tempat ini. Tempat terakhir kita bertatap muka secara
langsung. Banyak sekali tempat yang nyaman untuk bisa mengenangmu tapi aku
lebih suka disini. Apakah kau sudah melupakannya?? Oh Tuhan sulit sekali
melupakan setiap kejadian yang terpaut dirimu, semakin kulupakan semakin kuat
ingatan itu melebihi ingatanku pada jumlah angka empat hasil penjumlahan dua di
tambah dua.
Beberapa literatur mengatakan untuk
mengobati kesedihan ini biarlah waktu yang akan menerbangkanya, menghapusnya
dan menenggelamkannya. Tapi ku berani bersumpah bahwa teori itu sangat parsial
sekali dan tak berlaku padaku. Karena jujur aku sudah berusaha membunuh
perasaan ini berkali kali dan ternyata aku tak bisa melakukannya. Ku coba untuk
memangkas tunas – tunas perasaan ini dan apa yang terjadi ternyata rasa ini
semakin lebat tumbuh, akarnya menghujam semakin dalam dan akhirnya ku menyerah dan kubiarkan rasa
ini semakin tumbuh menjadi hutan hijau yang menyejukan jiwa, walau itu berarti
ku harus menikam hati setiap detik, setiap kali rasa rindu itu muncul dan Semakin
hari kerinduan itu semakin membuncah.
Cinta memang gila!! Dan diriku sudah kehilangan akal sehat untuk
memberikan keseimbangan. Sampai detik ini aku tak bisa keluar dari
kebingunangan menentukan mana yang benar-benar nyata dan mana yang khayalan
imagener yang kuciptakan begitu indah itu. Padahal jelas jika ku minta
pendapatmu pasti dirimu memintaku untuk keluar dari labirin ini dan kembali
pada dunia nyata. Hatiku akan selalu berkata “iya” jika dirimu yang pinta,
meski itu adalah hal yang sulit. Ku akan berusaha keluar dari labirin ini dan
muncul kembali di dunia nyata.!!
Aduhai
jujur ku sangat rindu senyuman itu, senyuman tulus yang kau berikan tanpa
beban. Senyum yang kau berikan padaku di mimpi itu, di atas atap sebuah rumah
ditengah padang rumput antah barantah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar