Rabu, 10 Juli 2013

Izinkan Aku menangis untukmu


Setelah melalui perenungan berhari -  hari, hampir bisa kupastikan bahwa kita tidak akan pernah bisa menghapus ingatan – ingatan perasaan kita, walau kita mencoba untuk menaruhnya di pojok hati yang paling dalam, itu akan percuma karena dia akan berubah menjadi bom waktu yang sewaktu – waktu akan meledak. dan hanya butuh sedikit pematik saja maka “BOOM” dia akan meledakan hatimu lagi. Perasaan itu akan kembali tumpah berserakan dan setiap keping – keping ingatan itu akan terulang bagaikan film dokumeter yang abadi. Jika ini tidak bisa di pahami oleh beberapa orang yang selalu bilang kita bisa melupakannya, maka cobalah pahami dari sisi yang hingga kapanpun tetap mengingatnya, karena sekali saja kau menuliskannya di hati mu maka dia akan membekas selamanya dan akan tetap di ingat hingga kapanpun.

Beberapa hari ini ku sangat bersyukur atas kesempatan yang pemilik semesta berikan dan juga beberapa hal yang membuat ku bisa mengembalikan senyum dan ku harus bisa “Move On” dengan berbagai target yang tidak ringan, sungguh ku syukuri perasaan yang pemilik semesta beri, walau ketika ingatan itu muncul kembali di sela – sela aktivitas ini setidaknya dalam minggu ini ku berhasil meredam air mata ini untuk tumpah dan itu sungguh tidak mudah karena meski ku coba untuk berhenti menangis tentu tangis itu tak terlihat di pipi yang kering tapi tangis itu tertinggal di hati. Kesedihan, rasa sakit, kesendirian dan beban yang membekas. Disini ku tak tahu apakah ini akan berlangsung sebentar atau boleh jadi selamanya.

Aku, Kau dan secarik tulisan di hati ini tak ada yang bisa mengapusnya, maka izinkan aku menangis untukmu, bukan karena kesalahanku dalam memilih, atau karena kegagalanku mengetahui betapa berharganya dirimu tapi karena perasaan ini masih membuktikan diriku manusia yang mempunyai “perasaan”  “rasa” dan “ingatan” yang ingin ku abadikan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar