Setelah
melalui perenungan berhari - hari,
hampir bisa kupastikan bahwa kita tidak akan pernah bisa menghapus ingatan –
ingatan perasaan kita, walau kita mencoba untuk menaruhnya di pojok hati yang
paling dalam, itu akan percuma karena dia akan berubah menjadi bom waktu yang
sewaktu – waktu akan meledak. dan hanya butuh sedikit pematik saja maka “BOOM”
dia akan meledakan hatimu lagi. Perasaan itu akan kembali tumpah berserakan dan
setiap keping – keping ingatan itu akan terulang bagaikan film dokumeter yang
abadi. Jika ini tidak bisa di pahami oleh beberapa orang yang selalu bilang
kita bisa melupakannya, maka cobalah pahami dari sisi yang hingga kapanpun
tetap mengingatnya, karena sekali saja kau menuliskannya di hati mu maka dia
akan membekas selamanya dan akan tetap di ingat hingga kapanpun.
Beberapa
hari ini ku sangat bersyukur atas kesempatan yang pemilik semesta berikan dan juga
beberapa hal yang membuat ku bisa mengembalikan senyum dan ku harus bisa “Move
On” dengan berbagai target yang tidak ringan, sungguh ku syukuri perasaan yang
pemilik semesta beri, walau ketika ingatan itu muncul kembali di sela – sela aktivitas
ini setidaknya dalam minggu ini ku berhasil meredam air mata ini untuk tumpah
dan itu sungguh tidak mudah karena meski ku coba untuk berhenti menangis tentu
tangis itu tak terlihat di pipi yang kering tapi tangis itu tertinggal di hati.
Kesedihan, rasa sakit, kesendirian dan beban yang membekas. Disini ku tak tahu
apakah ini akan berlangsung sebentar atau boleh jadi selamanya.
Aku,
Kau dan secarik tulisan di hati ini tak ada yang bisa mengapusnya, maka izinkan
aku menangis untukmu, bukan karena kesalahanku dalam memilih, atau karena
kegagalanku mengetahui betapa berharganya dirimu tapi karena perasaan ini masih
membuktikan diriku manusia yang mempunyai “perasaan” “rasa” dan “ingatan” yang ingin ku abadikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar