Kalau cinta itu punya sayap, maka jangan-jangan semua pencinta di dunia akan bergegas terbang, menutupi indahnya langit biru, atau eloknya kaki langit saat matahari terbit dan tenggelam. Hiruk pikuk sejauh mata memandang.
Kalau cinta itu punya sirip dan insang, maka jangan-jangan semua pencinta di dunia akan segera berenang, menutupi indahnya hamparan lautan, atau eloknya ombak laut saat membasuh kaki. Cinta sejauh mata melihat.
Aduhai, kalau cinta itu adalah buah paling lezat, maka jangan-jangan semua pencinta di dunia akan mabuk menghabiskannya, tidak peduli kalau selepas kelezatan tersebut, boleh jadi memabukkan atau membuat merana hati dan fisik.
Wahai, jikalau cinta itu adalah perjalanan, maka jangan-jangan semua pencinta di dunia akan terus, terus, terus melakukan perjalanan, tidak berhenti walau hujan badai menghadang, tidak peduli walau siang berganti malam, dan malam telah berganti siang lagi, melupakan bahwa sesungguhnya setiap halte bisa jadi pemberhentian sejenak, setiap stasiun bisa menjadi tempat bermalam memikirkan ulang banyak hal.
Entahlah.
Karena sungguh, jikalau cinta itu adalah kesibukan, maka sudah banyaklah pencinta di dunia yang telah menyibukkan diri dengan hal baru tersebut, melupakan teman dekat, keluarga sendiri, padahal siapalah hal baru tersebut, paling juga baru beberapa hari lalu saling menyapa, bandingkan dengan teman, keluarga sendiri yang bertahun-tahun jelas terlihat pengorbanan dan kepedulian.
Karena sungguh, jikalau cinta itu adalah tanpa logika, maka sudah banyaklah pencinta yang benar-benar lupa bahwa boleh jadi dia telah melupakan ada hal yang lebih penting, lebih indah di dunia ini dibandingkan dengan perasaan yang bisa digerus oleh waktu dan jarak.
Tetapi, entahlah.
Kita hidup untuk cinta.
Atau kita mencintai segenap kehidupan maka hiduplah kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar