Senin, 29 Juli 2013

Never Ending Love

Aku Menulis 1023 bab, tentang kamu
dan kakiku melangkah lunglai
karena mengelilingi dunia menujumu

di sini, ku titipkan bunga sakura
seperti pembatas buku roman
diselipkan diam diam sebelum pembaca
membuka segelnya. dan ku nantikan ada yang membaca
menemukannya terpesona lalu menyimpannya dan
di jadikan sebagai hadiah istimewa

tetapi banyak orang-orang lain yang meninginkan
entah itu Budi, Bambang atau Agus, tidak boleh
lebih baik dari aku, yang turun dari kayangan
seperti malaikat

walau sejujurnya aku tak pernah melihat
malaikat bercahaya atau tidak, tampan atau
tak tampan, tersenyum indah atau tidak

tapi satu hal yang pasti, malaikat tak berakal
dan mencintaimu pun demikian

seperti rasa yang kumulai
sebuah bab bernama kamu
tetapi tak pernah usai kutulis

karena hidupku yang singkat terlalu
panjang untuk di tuliskan dalam berlembar
kertas, bahkan 1023 bab yang kucita-citakan

mungkin satu judul ini suatu hari pasti terpajang

di toko buku dengan lebel "Never Ending Love"


Rabu, 24 Juli 2013

Bermandikan Hujan

Ku bermandikan hujan, setiap tetes air membuatmu tertawa seperti tak pernah tertawa sebelumnya. Hujan bisa melupakan diri pada air mata.

Ku rentangkan tangan seperti siap memeluk sesuatu, ia bilang sudah siapkah memeluk kehilangan??

Kepadaku dia tak pernah jujur soal perasaan, untuk apa membeli seribu payung namun tak ada yang di pegarkan kecuali mengaku, dia tak mau orang – orang takut pada masa lalunya sendiri.

Ku senang sekali bermandikan hujan karena saat itu dunia tak akan pernah tahu air mataku, aduhai hujan.. Ia tak pernah bermadikan hujan tanpamu.



Sabtu, 20 Juli 2013

Jikalau Cinta

Kalau cinta itu punya sayap, maka jangan-jangan semua pencinta di dunia akan bergegas terbang, menutupi indahnya langit biru, atau eloknya kaki langit saat matahari terbit dan tenggelam. Hiruk pikuk sejauh mata memandang.

Kalau cinta itu punya sirip dan insang, maka jangan-jangan semua pencinta di dunia akan segera berenang, menutupi indahnya hamparan lautan, atau eloknya ombak laut saat membasuh kaki. Cinta sejauh mata melihat. 

Aduhai, kalau cinta itu adalah buah paling lezat, maka jangan-jangan semua pencinta di dunia akan mabuk menghabiskannya, tidak peduli kalau selepas kelezatan tersebut, boleh jadi memabukkan atau membuat merana hati dan fisik. 

Wahai, jikalau cinta itu adalah perjalanan, maka jangan-jangan semua pencinta di dunia akan terus, terus, terus melakukan perjalanan, tidak berhenti walau hujan badai menghadang, tidak peduli walau siang berganti malam,  dan malam telah berganti siang lagi, melupakan bahwa sesungguhnya setiap halte bisa jadi pemberhentian sejenak, setiap stasiun bisa menjadi tempat  bermalam memikirkan ulang banyak hal.

Entahlah.

Karena sungguh, jikalau cinta itu adalah kesibukan, maka sudah banyaklah pencinta di dunia yang telah menyibukkan diri dengan hal baru tersebut, melupakan teman dekat, keluarga sendiri, padahal siapalah hal baru tersebut, paling juga baru beberapa hari lalu saling menyapa, bandingkan dengan teman, keluarga sendiri yang bertahun-tahun jelas terlihat pengorbanan dan kepedulian. 

Karena sungguh, jikalau cinta itu adalah tanpa logika, maka sudah banyaklah pencinta yang benar-benar lupa bahwa boleh jadi dia telah melupakan ada hal yang lebih penting, lebih indah di dunia ini dibandingkan dengan perasaan yang bisa digerus oleh waktu dan jarak. 

Tetapi, entahlah.
Kita hidup untuk cinta.
Atau kita mencintai segenap kehidupan maka hiduplah kita.


*Saya kira begitu



Saya kira, burung tak punya rasa sedih,
Karena nampaknya, mereka selalu bisa terbang,
Kapanpun mereka mau

Saya kira, ikan tak punya rasa sesal,
Karena nampaknya, mereka selalu bisa berenang,
Kapanpun mereka ingin

Karena manusia,
Kadang saat sedih, sering saat sesal
Mereka jadi berhenti makan, berhenti mandi,
Bahkan berhenti berpikir sebagai manusia

Aih, saya kira, cacing juga tak punya rasa sesak
Karena nampaknya, mereka selalu bisa menggali tanah
Kapanpun mereka maju

Juga ayam jago, tak punya rasa kecewa
Karena nampaknya, setiap pagi dia selalu berkokok
Kapanpun, hari apapun, mau apapun

Karena manusia,
Kadang saat sesak, sering saat kecewa
Mereka jadi berhenti maju, nggak move on, malas bangun pagi
Bahkan kepengin hari menjadi berhenti baginya

Mungkin begitu
Mungkin juga tidak demikian. 


*tere liye


*Dan kesedihan dihabisi oleh waktu



Kita hapus nomor HP-nya di phone book
Kita delete alamat email-nya di address book
Kita buang whatsapp-nya
Kita disconected BBM-nya,
Sayang beribu sayang,
Kita sudah terlanjur ingat 
Di luar kepala hafal nomernya
Bahkan saat tidur pun bisa mengigau pin BB-nya

Kita hapus message-nya
Kita delete foto2nya
Kita remove dari friend list, bahkan block sekaligus
Kita usir jauh-jauh dari dari home
Sungguh jangan ganggu lagi di dunia maya
Sayang beribu sayang,
Kita tetap kepo, stalking, ngintip
Ingin tahu apa yang dia lakukan
Bahkan bangun tidur, masih ileran
First thing in the morning

Inilah sajak melupakan jaman modern
Sungguh malang anak sekarang
Karena jaman dulu,
Orang tua kita paling cukup membakar tumpukan surat
Atau mengirim telegram: 'lupakan saja, koma, jangan hubungi aku lagi. titikhabis'
Dan kesedihan dihabisi oleh waktu

*Tere Liye



*Sajak jangan habiskan

Kawan, jangan habiskan air mata menangisi seseorang
yang jangan-jangan tidak pernah menangis untuk kita

Jangan habiskan waktu memikirkan seseorang
yang boleh jadi tidak pernah memikirkan kita

Hidup ini memang kadang ganjil sekali,
Ada milyaran orang, tapi kita menambatkan hati
Ada berjuta kesempatan, tapi kita memilih satu saja

Hidup ini memang kadang rumit sekali,
Ada banyak hari esok, tapi kita tidak beranjak
Terlalu banyak hari kemarin, tapi kita terus terbenam

Aduhai, hidup ini memang kadang menyebalkan sekali,
Ada begitu banyak tempat, tapi kita masih di situ-situ saja
Ada begitu banyak pilihan kendaraan, tapi kita tidak segera naik
Masih saja di sana. Menatap kosong kesibukan sekitar.

Sungguh, jangan habiskan waktu kita
Untuk seseorang yang tidak pernah tahu
Bahwa kita menghabiskan waktu demi dia.

*Tere Liye,



*Angin, Hujan dan Sakit Hati



Kenapa ada angin?
Agar orang-orang tahu kalau ada udara di sekitarnya.
Tiap detik kita menghirup udara, kadang lupa sedang bernafas.
Tiap detik kita berada dalam udara, lebih sering tidak menyadarinya
Angin memberi kabar bagi para pemikir
Wahai, sungguh ada sesuatu di sekitar kita
Meski tidak terlihat, tidak bisa dipegang

Kenapa ada hujan?
Agar orang-orang paham kalau ada langit di atas sana
Tiap detik kita melintas di bawahnya, lebih sering mengeluh
Tiap detik kita bernaung di bawahnya, lebih sering mengabaikan
Hujan memberi kabar bagi para pujangga
Aduhai, sungguh ada yang menaungi di atas
Meski tidak tahu batasnya, tidak ada wujudnya

Begitulah kehidupan.
Ada banyak pertanda bagi orang yang mau memikirkannya

Kenapa kita sakit hati?
Agar orang-orang paham dia adalah manusia
Tiap saat kita melalui hidup, lebih sering tidak peduli
Tiap saat kita menjalani hidup, mungkin tidak merasa sedang hidup
Sakit hati memberi kabar bagi manusia bahwa kita adalah manusia
Sungguh, tidak ada hewan, binatang yang bisa sakit hati
Apalagi batu, kayu, tanah, tiada pernah sakit hati

Maka berdirilah sejenak, rasakan angin menerpa wajah
Lantas tersenyum, ada udara di sekitar kita

Maka mendongaklah menatap ke atas, tatap bulan gemintang atau langit biru bersaput awan
Lantas mengangguk takjim, ada langit di sana

Maka berhentilah sejenak saat sakit hati itu tiba, rasakan segenap sensasinya
Lantas tertawa kecil atau terkekeh juga boleh, kita adalah manusia

*Tere Lije




Menyedihkan

Memang menyedihkan melihatnya, seseorang yang membuat kita amat bahagia sebelumnya, sekarang justeru membuat kita stress, terjebak dalam perangkap kesedihan tidak berkesudahan.

Memang menyedihkan melihatnya, seseorang yang kita harapkan, kita banggakan, kita anggap terbaik, justeru sekarang adalah yang membanting semua harapan ke dasar terdalamnya, jangan tanya soal bangga dan terbaik.

Memang menyedihkan melihatnya, seseorang yang bilang akan ada selalu untuk kita, akan selalu setia, justeru sekarang adalah orang pertama yang pergi, apalagi mau peduli.

Tapi mau dikata apa, Kawan?

Memang menyedihkan melihatnya, kita tahu persis itu buruk, seseorang itu buruk bagi kita, hubungan seperti itu juga buruk, tapi kita tetap saja kembali, kembali dan kembali. 

Sungguh menyedihkan. 

*tere liye




Tepi - tepi kehidupan

Hidup adalah tepi-tepi pemahaman.
Yang saling bertolak belakang satu sama lain
Sentuh satu tepinya, maka ajaib sekali, 
Kita akan memahami tepi satunya lagi

Tidak paham?

Hei, bukankah dengan melewati seluruh tepi kesedihan
Maka kita akan paham hakikat kebahagiaan

Lewatilah tepi kesendirian
Maka kita akan bersyukur atas kebersamaan

Laluilah tepi kefakiran
Maka kita akan mengerti memiliki

Cobalah untuk diam, hening
Maka kita akan lebih dewasa menyikapi keramaian

Rasakanlah tepi pengkhianatan
Maka kita akan paham hakikat kesetiaan

Alamilah sensasi tepi ditinggalkan
Maka kita akan mengerti definisi menunggu

Lewatilah tepi kebencian
Maka kita akan paham tentang kasih sayang

Hidup adalah tepi-tepi pemahaman.
Yang saling bertolak belakang satu sama lain
Sentuh satu tepinya, maka ajaib sekali, 
Kita akan memahami tepi satunya lagi. 

*tereliye


Sunset

Saat senja datang, 
Apakah Bumi yang pergi meninggalkan 
Atau Matahari yang mengucapkan selamat tinggal?

Saat purnama tinggi,
Apakah Bumi yang menatap rindu
Atau Rembulan yang menatap kangen?

Saat hujan turun,
Apakah awan yang berlarian tak sabar
Atau Bumi yang menyambut riang?

Entahlah.

Saat dua sahabat lama bertemu
Siapa yang menunggu, siapa yang datang
Jika dua-duanya berpelukan erat

Saat dua musuh berperang
Siapa yang memulai, siapa yang mengakhiri
Jika dua-duanya sama-sama binasa

Pun, saat sebuah hubungan terputus
Siapa yang pergi, siapa yang ditinggal
Jika dua-duanya sama2 terluka

Entahlah.

* Tere Lije 


*Sajak jangan habiskan

Kawan, jangan habiskan air mata menangisi seseorang
yang jangan-jangan tidak pernah menangis untuk kita

Jangan habiskan waktu memikirkan seseorang
yang boleh jadi tidak pernah memikirkan kita

Hidup ini memang kadang ganjil sekali,
Ada milyaran orang, tapi kita menambatkan hati
Ada berjuta kesempatan, tapi kita memilih satu saja

Hidup ini memang kadang rumit sekali,
Ada banyak hari esok, tapi kita tidak beranjak
Terlalu banyak hari kemarin, tapi kita terus terbenam

Aduhai, hidup ini memang kadang menyebalkan sekali,
Ada begitu banyak tempat, tapi kita masih di situ-situ saja
Ada begitu banyak pilihan kendaraan, tapi kita tidak segera naik
Masih saja di sana. Menatap kosong kesibukan sekitar.

Sungguh, jangan habiskan waktu kita
Untuk seseorang yang tidak pernah tahu
Bahwa kita menghabiskan waktu demi dia.

*Tere Liye, repos




*Skenario yang terbaik


Engkau tahu, duhai tetes air hujan, kering sudah air mata, tidur tak nyenyak, makan tak enak, tersenyum penuh sandiwara, tapi biarlah Tuhan menyaksikan semuanya. 

Engkau tahu, duhai gemerisik angin,kalau boleh, ingin kutitipkan banyak hal padamu, sampaikan padanya sepotong kata, tapi itu tak bisa kulakukan, biarlah Tuhan melihat semuanya. 

Engkau tahu, duhai tokek di kejauhan,setiap kali kau berseru 'tokekk', aku ingin sekali menghitung, satu untuk iya, satu untuk tidak, lantas berharap kau berbunyi sekali lagi agar jawabannya 'iya', dan berharap kau berhenti jika memang sudah 'iya', tapi itu tak bisa kulakukan, biarlah Tuhan mendengar semuanya.

Engkau tahu, duhai retakan dinding,sungguh aku tak tahu lagi berapa dalam retaknya hati ini, besok lusa, mudah saja memperbaiki retakanmu dinding, tinggal ambil semen dan pasir, tapi hatiku, entah bagaimana merekatkannya kembali, tapi biarlah Tuhan menyaksikan semuanya.

Wahai orang-orang yang merindu, maka malam ini, akan kusampaikan sebuah kabar gembira dari sebuah nasehat bijak. Kalian tahu, buku-buku cinta yang indah, film-film roman yang mengharukan, puisi-puisi perasaan yang mengharu biru, itu semua ditulis oleh penulisnya. Maka, biarlah, biarlah kisah perasaan kalian yang spesial, ditulis langsung oleh Tuhan. Percayakan pada yang terbaik.

--Tere Liye, repos



*Embun & perasaan

Kenapa embun itu indah, 
Karena butir airnya tidak menetes
Sekali dia menetes, tidak ada lagi embun 

Kenapa purnama itu elok,
Karena bulan balas menatap di angkasa
Sekali dia bergerak, tidak ada lagu purnama

Aduhai, mengapa sunset itu menakjubkan
Karena matahari menggelayut malas di kaki langit
Sekali dia melaju, hanya tersisa gelap dan debur ombak

Mengapa pagi itu menenteramkan dan dingin
Karena kabut mengambang di sekitar
Sekali dia menguap, tidak ada lagi pagi

Di dunia ini,
Duhai, ada banyak sekali momen-momen terbaik
Meski singkat, sekejap,
Yang jika belum terjadi langkah berikutnya
Maka dia akan selalu spesial

Sama dengan kehidupan kita, perasaan kita,

Menyimpan perasaan itu indah
Karena penuh misteri dan menduga
Sekali dia tersampaikan, tidak ada lagi menyimpan

Menunggu seseorang itu elok
Karena kita terus berdiri setia
Sekali dia datang, tidak ada lagi menunggu

Bersabar itu sungguh menakjubkan
Karena kita terus berharap dan berdoa
Sekali masanya tiba, tiada lain kecuali jawaban dan kepastian
Sungguh tidak akan keliru bagi orang2 yang paham

Wahai, tahukah kita kenapa embun itu indah?
Karena butir airnya tidak menetes,
Sekali dia menetes, tidak ada lagi embun.
Masa singkat yang begitu berharga.

*Tere Lije. 





*Bukankah, atau bukankah

Bukankah,
banyak yang berharap jawaban dari seseorang?
yang sayangnya, yang diharapkan bahkan tidak mengerti apa pertanyaannya
"jadi, jawaban apa yang harus diberikan?"

Bukankah,
banyak yang menanti penjelasan dari seseorang?
yang sayangnya, yang dinanti bahkan tidak tahu harus menjelaskan apa
"aduh, penjelasan apa yang harus disampaikan?"

Bukankah,
banyak yang menunggu, menunggu, dan terus menunggu seseorang
yang sayangnya, hei, yang ditunggu bahkan sama sekali merasa tidak punya janji
"kau menungguku? sejak kapan?"

Bukankah,
banyak yang menambatkan harapan
yang sayangnya, seseorang itu bahkan belum membangun dermaga
"akan kau tambatkan di mana?"

Bukankah,
banyak yang menatap dari kejauhan
yang sayangnya, yang ditatap sibuk memperhatikan hal lain

Bukankah,
banyak yang menulis puisi, sajak2, surat2, tulisan2
yang sayangnya, seseorang dalam tulisan itu bahkan tidak tahu dia sedang jadi tokoh utama
pun bagaimanalah akan membacanya

Aduhai, urusan perasaan, sejak dulu hingga kelak
Sungguh selalu menjadi bunga kehidupan


Ada yang mekar indah senantiasa terjaga
Ada yang layu sebelum waktunya
Maka semoga, bagian kita, tidak hanya mekar terjaga
Tapi juga berakhir bahagia

*Tere Lije, repos




Kamis, 18 Juli 2013

Life Must Go on


 Iya seperti judul di atas life must go on, maka Sekarang Hadapi apa yang ada di depan kita,, lakukan yang terbaik di setiap langkah kaki.  Karena Hidup itu Serangkaian peristiwa pendewasaan. Untuk itu kita harus terus Belajar meningkatkan hal yang sudah baik dan tak mengulangi hal yang kurang baik.


**  Aku lebih suka menanggung resiko perjuanganku dari pada aku menyesal tak memperjuangkanya.!!


Rabu, 17 Juli 2013

Memetik Bintang

Kini ku sadari rasa ini tak mungkin

Dapat terwujud dalam kisah kasih kita

Kini ku mengerti tulus cinta ini

Hanyalah mimpi panjang  yang tak pernah usai

Karena ‘tuk bersamamu

Bagai berharap memeluk bulan

Karena ‘tuk bersamamu

Bagaikan berharap memetik bintang.




Rabu, 10 Juli 2013

Izinkan Aku menangis untukmu


Setelah melalui perenungan berhari -  hari, hampir bisa kupastikan bahwa kita tidak akan pernah bisa menghapus ingatan – ingatan perasaan kita, walau kita mencoba untuk menaruhnya di pojok hati yang paling dalam, itu akan percuma karena dia akan berubah menjadi bom waktu yang sewaktu – waktu akan meledak. dan hanya butuh sedikit pematik saja maka “BOOM” dia akan meledakan hatimu lagi. Perasaan itu akan kembali tumpah berserakan dan setiap keping – keping ingatan itu akan terulang bagaikan film dokumeter yang abadi. Jika ini tidak bisa di pahami oleh beberapa orang yang selalu bilang kita bisa melupakannya, maka cobalah pahami dari sisi yang hingga kapanpun tetap mengingatnya, karena sekali saja kau menuliskannya di hati mu maka dia akan membekas selamanya dan akan tetap di ingat hingga kapanpun.

Beberapa hari ini ku sangat bersyukur atas kesempatan yang pemilik semesta berikan dan juga beberapa hal yang membuat ku bisa mengembalikan senyum dan ku harus bisa “Move On” dengan berbagai target yang tidak ringan, sungguh ku syukuri perasaan yang pemilik semesta beri, walau ketika ingatan itu muncul kembali di sela – sela aktivitas ini setidaknya dalam minggu ini ku berhasil meredam air mata ini untuk tumpah dan itu sungguh tidak mudah karena meski ku coba untuk berhenti menangis tentu tangis itu tak terlihat di pipi yang kering tapi tangis itu tertinggal di hati. Kesedihan, rasa sakit, kesendirian dan beban yang membekas. Disini ku tak tahu apakah ini akan berlangsung sebentar atau boleh jadi selamanya.

Aku, Kau dan secarik tulisan di hati ini tak ada yang bisa mengapusnya, maka izinkan aku menangis untukmu, bukan karena kesalahanku dalam memilih, atau karena kegagalanku mengetahui betapa berharganya dirimu tapi karena perasaan ini masih membuktikan diriku manusia yang mempunyai “perasaan”  “rasa” dan “ingatan” yang ingin ku abadikan.



Sabtu, 06 Juli 2013

Dalam Doaku


Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara…

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana…

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu…

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku…

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku…

Aku mencintaimu…
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu…

~*Sapardi Djoko Damono*~
[ Kumpulan Sajak "Hujan Bulan Juni", 1989 ]




God Always Listening and Understanding

It’s Hard to Forget

Someone who gave you


So much to remember.

"Pada Suatu Hari Nanti"

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti,
Jasadku tak akan ada lagi,
Tapi dalam bait-bait sajak ini,
Kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,
Suaraku tak terdengar lagi,
Tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,
Pada suatu hari nanti,
Impianku pun tak dikenal lagi,
Namun di sela-sela huruf sajak ini,
Kau tak akan letih-letihnya kucari.


Puisi Sapardi Djoko Damono 


Mencari jalan keluar dari labirin khayal.


Aku sangat tahu arti sebuah kesedihan dan berdiri sepanjang hari, sepanjang bulan dan kini sudah hampir setahun ku sering berdiri di tempat ini. Tempat terakhir kita bertatap muka secara langsung. Banyak sekali tempat yang nyaman untuk bisa mengenangmu tapi aku lebih suka disini. Apakah kau sudah melupakannya?? Oh Tuhan sulit sekali melupakan setiap kejadian yang terpaut dirimu, semakin kulupakan semakin kuat ingatan itu melebihi ingatanku pada jumlah angka empat hasil penjumlahan dua di tambah dua.

Beberapa literatur mengatakan untuk mengobati kesedihan ini biarlah waktu yang akan menerbangkanya, menghapusnya dan menenggelamkannya. Tapi ku berani bersumpah bahwa teori itu sangat parsial sekali dan tak berlaku padaku. Karena jujur aku sudah berusaha membunuh perasaan ini berkali kali dan ternyata aku tak bisa melakukannya. Ku coba untuk memangkas tunas – tunas perasaan ini dan apa yang terjadi ternyata rasa ini semakin lebat tumbuh, akarnya menghujam semakin dalam  dan akhirnya ku menyerah dan kubiarkan rasa ini semakin tumbuh menjadi hutan hijau yang menyejukan jiwa, walau itu berarti ku harus menikam hati setiap detik, setiap kali rasa rindu itu muncul dan Semakin hari kerinduan itu semakin membuncah.

Cinta memang gila!!  Dan diriku sudah kehilangan akal sehat untuk memberikan keseimbangan. Sampai detik ini aku tak bisa keluar dari kebingunangan menentukan mana yang benar-benar nyata dan mana yang khayalan imagener yang kuciptakan begitu indah itu. Padahal jelas jika ku minta pendapatmu pasti dirimu memintaku untuk keluar dari labirin ini dan kembali pada dunia nyata. Hatiku akan selalu berkata “iya” jika dirimu yang pinta, meski itu adalah hal yang sulit. Ku akan berusaha keluar dari labirin ini dan muncul kembali di dunia nyata.!!


  Aduhai jujur ku sangat rindu senyuman itu, senyuman tulus yang kau berikan tanpa beban. Senyum yang kau berikan padaku di mimpi itu, di atas atap sebuah rumah ditengah padang rumput antah barantah.