Seorang pujangga
amatir berucap pelajaran pertama dari cinta adalah melepaskan, secinta apapun
kita pada seseorang, kita tidak pernah punya hak untuk memaksanya menjadi pendamping
kita. Maka Biarkan cinta itu mengalir dan bertemu di waktu yang tepat, serta
cara yang tepat. Diman Tuhan anugerahkan
pada kita sebuah kebahagiaan tak terlupakan. Lama ku baca berulang kalimat –
kalimat tadi dan ku renungkan apakah selama ini ku tak pernah belaja cinta? Kuliah
cinta? Atau kursus cinta? Sehingga baru sekarang ku temukan kalimat “pelajaran
pertama dari cinta adalah melepaskan”. Selama merenung, ku tanya pada hatiku
apakah diriku bisa melepaskan?? Padahal hati ini setiap saat merindu untuk
bersamanya, memilikinya sampai ajal menjemput bahkan sampai surga. Dan hebatnya
ini baru pelajaran pertama.!!
Kalau boleh
jujur hati ini tak akan pernah bisa melepaskan seseorang yang kita cintai, tapi
pujangga amatir tadi ingin bicara “hey jangan pernah kau paksakan cinta pada
seseorang yang belum tentu bahagia menerima cintamu”. Setelah direnungkan lagi
barulah ku sadar bahwa betul diriku terlalu egois jika memaksakan cinta, dan
diriku pun tak pernah mengetahui apakah dirinya mencintaiku atau tidak? Tapi yang
pasti dialah yang teah mencuri hati ini, membuat gelisah seluruh jiwa dan raga
ini selama berhari – hari, berbulan – bulan bahkan tahunan. Tapi lagi-lagi ku
harus ingat jika seseorang yang kita cintai tidak memeliki rasa yang sama maka
baiknya hati ini belajar untuk melepaskan dan membarkan dia bahagia. Bukankah cinta
yang indah adalah bisa memberi kebahagiaan walau kita terluka dalam?.
Jika Tuhan
pertemukan kita, ingin sekali ku tanyakan urusan yang rumit ini, ku ingin
tanyakan langsung apakah dirimu mempunyai rasa padaku?? Ataukah dari dulu
diriku saja yang mencintaimu?? Jujur pertanyaan ini dari dulu ingin sekali ku
ajukan padamu duhai pemilik hatiku, tapi kenapa diriku begitu pengecut untuk bertanya
dan memilih diam, mencintaimu dalam diam, hingga putus asa dan kehilangan
kepercayaan diri untuk mengajukan pertanyaan itu. Tapi hingga detik ini, hati
yang semakin membuncah ini selalu ingin mengutarakan pertanyaan tadi.
Hingga kuputuskan
untuk mencintaimu dalam doa dan harap pada Pemilik Semesta yang menggenggam
nyawa kita, semoga Pemilik Semesta mempunyai rancana yang indah untuk kita
berdua. Saat ini akan ku jalani hidup dengan penuh syukur pada Tuhan karena
telah memberikan rasa yang indah ini dan terus memperbaiki diri, karena diri
ini sangat banyak kurang dibandingkan dengan dirimu tapi ku tak mau menyerah
untuk kali ini.!! Biarlah usaha ini
bertemu dengan takdir Tuhan yang Indah. J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar