Rabu, 05 Juni 2013

Pelajaran Cinta yang Pertama

Seorang pujangga amatir berucap pelajaran pertama dari cinta adalah melepaskan, secinta apapun kita pada seseorang, kita tidak pernah punya hak untuk memaksanya menjadi pendamping kita. Maka Biarkan cinta itu mengalir dan bertemu di waktu yang tepat, serta cara yang tepat. Diman  Tuhan anugerahkan pada kita sebuah kebahagiaan tak terlupakan. Lama ku baca berulang kalimat – kalimat tadi dan ku renungkan apakah selama ini ku tak pernah belaja cinta? Kuliah cinta? Atau kursus cinta? Sehingga baru sekarang ku temukan kalimat “pelajaran pertama dari cinta adalah melepaskan”. Selama merenung, ku tanya pada hatiku apakah diriku bisa melepaskan?? Padahal hati ini setiap saat merindu untuk bersamanya, memilikinya sampai ajal menjemput bahkan sampai surga. Dan hebatnya ini baru pelajaran pertama.!!

Kalau boleh jujur hati ini tak akan pernah bisa melepaskan seseorang yang kita cintai, tapi pujangga amatir tadi ingin bicara “hey jangan pernah kau paksakan cinta pada seseorang yang belum tentu bahagia menerima cintamu”. Setelah direnungkan lagi barulah ku sadar bahwa betul diriku terlalu egois jika memaksakan cinta, dan diriku pun tak pernah mengetahui apakah dirinya mencintaiku atau tidak? Tapi yang pasti dialah yang teah mencuri hati ini, membuat gelisah seluruh jiwa dan raga ini selama berhari – hari, berbulan – bulan bahkan tahunan. Tapi lagi-lagi ku harus ingat jika seseorang yang kita cintai tidak memeliki rasa yang sama maka baiknya hati ini belajar untuk melepaskan dan membarkan dia bahagia. Bukankah cinta yang indah adalah bisa memberi kebahagiaan walau kita terluka dalam?.

Jika Tuhan pertemukan kita, ingin sekali ku tanyakan urusan yang rumit ini, ku ingin tanyakan langsung apakah dirimu mempunyai rasa padaku?? Ataukah dari dulu diriku saja yang mencintaimu?? Jujur pertanyaan ini dari dulu ingin sekali ku ajukan padamu duhai pemilik hatiku, tapi kenapa diriku begitu pengecut untuk bertanya dan memilih diam, mencintaimu dalam diam, hingga putus asa dan kehilangan kepercayaan diri untuk mengajukan pertanyaan itu. Tapi hingga detik ini, hati yang semakin membuncah ini selalu ingin mengutarakan pertanyaan tadi.


Hingga kuputuskan untuk mencintaimu dalam doa dan harap pada Pemilik Semesta yang menggenggam nyawa kita, semoga Pemilik Semesta mempunyai rancana yang indah untuk kita berdua. Saat ini akan ku jalani hidup dengan penuh syukur pada Tuhan karena telah memberikan rasa yang indah ini dan terus memperbaiki diri, karena diri ini sangat banyak kurang dibandingkan dengan dirimu tapi ku tak mau menyerah untuk kali ini.!!  Biarlah usaha ini bertemu dengan takdir Tuhan yang Indah.  J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar