Gerimis di
pagi buta, tak jauh berbeda dengan hatiku yang sedang gerimis rindu, setitik –
setitik jatuh ke dalam ujung hati yang
penuh luka, membasahinya dengan kesejukkan penuh makna, benar sekali kata
pujangga amatir bahwa cinta itu berjuta rasanya, setiap hari ada saja rasa unik
yang cinta hadirkan dan memberikan warna bagi kehidupan yang kita jalani.
Semoga di
kotamu gerimis juga turun dengan indah dan mempunyai irama khas, karena ku
berharap dirimu bisa mendengarkan gemercik gerimis yang membawa pesan rinduku untukmu. Semakin hari diriku semakin
tak bisa membedakan mana realitas yang nyata dan mana realitas alam bawah sadar
yang ku hadirkan dalam kenyataan , dan selalu saja diriku memanifestasikan
engkau hadir di dalam kehidupanku. Hingga kadang muncul tanya apakah diriku
sudah mulai gila karenamu??
Entahlah,
jika diri ini mulai tak bisa sadar, ku berharap dirimu menyadarkanku, atau
menarikku kedalam bangunan mimpi yang tak mempunyai ujung serta tanpa jalan
keluar. Tapi diriku sangat takut sekali jika harus keluar dari alam bawah sadar
ini, karena realitas nyata mengajarkan hal yang berbeda. Berkali kali ku
hentakkan kaki ini ke bumi agar bisa kembali pulih kesadaran ini dan bergumam “ayo
bangun” tapi seketika itu pula diriku tercebur dalam mimpi indah yang ku
ciptakan bersamamu. Ku ingin dengar
suaramu mengatakan “jangan terus kau lakukan itu, ajaklah diriku kedunia
nyata bersamamu”.
Seorang guru
subconsius pernah mengajarkanku tentang menembakan mimpi ke langit dan itu tak
beda dengan berdoa tapi menembakan mimpi ke langit mempunya banyak syarat
seperti kita harus yakin tanpa sedikit ragu dan kita harus sangat ikhlas atas
semua nikmat yang Pemilik Semesta berikan. Kelihatannya pelajaran lama dari
guruku tercinta sudah lama ku tinggalkan, sekarang saatnya untuk mengulang
pelajaran kembali, ku akan menarikmu ke dalam realitas nyata dan bertutur pada
dunia bahwa diriku belum gila.
~gerimis sampaikan rinduku padanya~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar